Keislaman

Putus Asa, Tanda Hilangnya Keyakinan pada Allah Ta’ala

Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan karunia berupa kehidupan dengan berbagai cerita pada setiap hamba-Nya. Salah satu tujuan yang mungkin hendak dicapai adalah agar setiap manusia mampu mengambil manfaat atau pun pelajaran berharga yang terjadi dalam kehidupan orang lain. Maka dari itu, sering sekali kita melihat ada banyak suka dan duka dalam kehidupan, tak terkecuali miliki kita. Saat suka datang, mungkin kita akan merasa sangat bahagia. Sebaliknya, saat ujian dan cobaan mengintai kehidupan tidak jarang seseorang merasa tidak siap dan justru mudah berputus asa.

Pada kenyataannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang hamba-Nya untuk terlarut dalam keputus-asaan. Sebagaimana diketahui dalam al-Qur’an, bahwasanya Allah berfirman,

“Ibrahim berkata, “Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat”.” (QS. Al Hijr: 56)

dan dalam ayat yang lain,

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya; dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf: 87)

Ayat-ayat di atas menjelaskan tentang perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala pada kita untuk tidak dengan mudah berputus-asa. Sejatinya, putus asa sendiri adalah sikap dimana kita merasa kehilangan harapan akibat nasib atau takdir buruk yang dihadapi. Keadaan ini sangat mudah terjadi pada mereka yang tidak siap dalam menghadapi perputaran dunia. Bukan tanpa sebab, pasalnya keputus-asaan biasa terjadi pada mereka yang melupakan Allah sebagai pemilik dunia. Tepat sekali, sejatinya manusia tidak pantas untuk terlarut dalam keputus-asaan.

Hal ini menggambarkan bahwa diri mereka telah kehilangan harapan dan ketergantungan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Allah menganggap hamba-Nya ini sebagai orang yang sesat. Kesesatan tentu sangat dekat dengan kekafiran. Maka dari itu, sebagai umat Islam kita dilarang untuk terlalu bersedih hati kala dilanda cobaan. Sebaliknya, kita wajib menata kembali semangat dan menguatkam keyakinan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan begitu, rahmat Allah akan semakin dekat sekaligus memudahkan jalan kebangkitan bagi diri dan kehidupan kita.

Related Articles

Back to top button