Keislaman

Bangunan Masjid yang Megah, Bangga atau Waspada?

Ibadah menjadi kewajiban bagi umat Islam terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam melakukannya, dibutuhkan beberapa syarat tertentu yang memengaruhi keabsahan pelaksanaannya. Maka dari itu, tidak jarang kaum Muslimin berlomba-lomba memperbaiki kualitas ibadah mereka. Hal ini bahkan dilakukan dengan serta merta menghadirkan kenyamaan pada rumah-rumah ibadah yang ada.

Bangunan rumah ibadah yang dibuat dengan megah juga akhir-akhir ini banyak kita temui. Ragam desain dan teknik pembangunan yang modern dan mumpuni seolah menjadi nilai utama dari sebuah hadirnya masjid di beberapa daerah. Begitu megahnya rumah ibadah ini hingga akhirnya fungsi utama dari bangunan tersebut justru mulai terlupakan.

Lantas, apakah hal yang harus kita lakukan? Megahnya bangunan sebuah masjid akankah membuat kita bangga atau justru waspada? Dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Tidak akan tiba Hari Kiamat sampai manusia bermegah-megahan dalam membangun Masjid.” (HR. Abu Dawud no. 378)

Hadist di atas menjelaskan tentang peringatan Rasulullah kepada umatnya tentang tanda datangnya Hari Kiamat. Salah satu di antaranya adalah kehadiran masjid yang dibuat dengan sangat megah. Keindahan bangunan rumah ibadah mungkin saja dapat membuat kita begitu kagum. Sayangnya, kekaguman yang datang bukanlah ditujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tepat sekali, masjid dengan bangunan yang megah mampu membuat umat Islam berpaling dari Allah. Bukan tanpa sebab, pasalnya fungsi utama dari masjid yang sejatinya untuk beribadah pada Allah Ta’ala telah berubah menjadi hiburan semata. Desain dan tatanan moderen di dalamnya mampu menggelapkan mata manusia. Tak jarang, orang-orang datang hanya untuk melakukan swafoto semata.

Inilah sejatinya hal yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melalui hadistnya di atas. Kemegahan bangunan masjid sejatinya tidak menjadikan umat manusia semakin mengingat Allah. Sebaliknya, fungsi rumah ibadah tersebut berubah sebagai destinasi kunjungan saja. Tak ada air mata penuh harapan yang turun dari mata seorang hamba yang memohon ampun pada Rabb-nya.

Related Articles

Back to top button