Terkesan Sepele, Ini 3 Kebiasaan yang Timbulkan Kebencian Allah Ta’ala

Di antara banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mendapat perhatian Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan senantiasa menjaga ketaatan dan ketakwaan. Hal ini juga sejatinya merupakan dasar utama dan bukti dari tertanamnya ketauhidan di dalam hati seorang Muslim. Meski pun demikian, segala hal memerlukan keseimbangan. Selain mengerjakan hal-hal yang disenangi Allah sebagai tanda tunduk kita kepada-Nya, hendaknya kita juga harus dapat menjauhi perkara-perkara yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Perkara yang dibenci Allah kerap kali tidak pernah terpikirkan oleh kita. Bukan tanpa sebab, pasalnya kita hanya terfokus pada hal-hal negatif yang menjadi alasan timbulnya dosa. Pada kenyataannya, ada beberapa hal yang mungkin terdengar ringan tapi sangat dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini sebagaimana diketahui dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, yang berkata bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam pernah bersabda,

“….. Dan Allah benci kepada kalian tiga hal. 1) Allah benci pada kalian “Katanya dan katanya”, 2) Allah benci kalian banyak bertanya (yang tidak diamalkan), dan 3) Allah benci kalian menyia-nyiakan harta.” [HR. Muslim juz 3, hal. 1340, no. 10)

Hadist di atas menjelaskan tentang perkara-perkara yang amat dibenci Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam kepada para sahabat dan umatnya beliau menyampaikan bahwasanya terdapat 3 hal yang sering dianggap sepele dan ternyata dapat mendatangkan kebencian Allah. Perkara pertama adalah kebiasaan mengucapkan ‘katanya dan katanya’. Hal ini mengisyaratkan bahwa seseorang gemar mencari-cari berita dan menyebarkannya kepada orang lain. Sayangnya, berita yang dimaksud belum dapat ditentukan kebenarannya sementara orang lain telah mendengarnya. Kebiasaan ini dapat menumbuhkan sikap suudzon yang juga merupakan awal mula dari timbulnya fitnah.

Selain itu, perkara kedua yang juga dibenci Allah adalah kebiasaan banyak bertanya namun tidak mengamalkannya. Tepat sekali, bertanya mungkin menjadi hal yang baik untuk kita lakukan dalam upaya mencari informasi. Namun, ketika aktivitas ini dilakukan dengan tujuan menyimpang yakni hanya ingin menimbulkan perdebatan maka bertanya tidak lagi memberikan faedah bagi kita. Sebaliknya, orang-orang yang banyak bertanya terhadap hal sepele justru dapat mendatangkan kebencian Allah kepada dirinya. Hal ini lantaran ia telah melakukan perkara yang tidak berguna lagi merugikan orang lain.

Sementara perkara terakhir yang juga dibenci Allah Ta’ala adalah menyia-nyiakan harta. Harta adalah titipan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana halnya titipan ini menandakan bahwa kita bertanggung jawab untuk menjaganya sebaik mungkin. Bukan tanpa alasan, pasalnya kerap kali ada hak orang lain dari harta kita yang berlebih. Namun, jika kita tidak mampu memanfaatkannya dengan baik di jalan Allah seperti berfoya-foya atau menghabiskannya pada perkara maksiat dan dosa, maka harta tersebut termasuk dalam hal yang sia-sia. Sungguh amat disayangkan bahwa sejatinya hal ini menjadi tanda bahwa kita melewatkan peluang dari Allah untuk menimba pahala melalui rezeki yang dititipkan-Nya. Maka dari itu, memastikan harta kita agar bermanfaat di jalan Allah wajib dilakukan.