Pahala Kebaikan bagi Orang yang Mampu Mengurungkan Niat Jahat

Sakit hati merupakan salah satu perasaan alami yang bisa melanda hati manusia. Hal tersebut dapat terjadi akibat konflik atau perselisihan yang muncul dalam sebuah hubungan atau ruang lingkup lingkungan. Tidak jarang, sakit hati yang sulit disembuhkan membuat seseorang memendam dendam dan sangat ingin untuk membalaskannya sesegera mungkin. Meski sejatinya diperbolehkan untuk membalas kejahatan, namun umat Islam dianjurkan untuk dapat merelakan hal yang telah terjadi. Bukan tanpa alasan, pasalnya kesabaran hati kita untuk menunda atau melenyapkan niat membalas dendam dapat menjadi sumber pahala kebaikan bagi diri kita sendiri.

Dari Abu Hurairah radhiyalahu ‘anhu ia berkata bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“….. Dan jika dia berniat melaksanakan keburukan kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya Allah mencatatnya sebagai satu keburukan.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadist di atas menjelaskan tentang keutamaan untuk bersikap sabar atas kejahatan yang kita terima dari orang lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat dan umatnya menyampaikan bahwa terdapat pahala dari keburukan atau kejahatan yang mungkin sempat kita rencanakan namun kita urungkan niatnya. Ya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menurunkan satu kebaikan penuh kepada hamba-Nya yang merelakan rasa sakit hatinya dengan penuh kesabaran. Sebaliknya, bagi orang-orang yang tetap melancarkan niat kejahatannya, Allah akan menuliskan satu keburukan yang wajib dipertanggung-jawabkan kelak di akhirat.

Sejatinya, terdapat hak bagi kita untuk melancarkan balasan bagi kejahatan yang kita terima. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala menyenangi hamba-Nya yang mengutamakan kelapangan hati dan kesabaran dalam menghadapi tantangan dunia tersebut. Dapat diakui bahwa hal ini bukanlah perkara yang mudah dilakukan. Namun, jika kita lebih memercayai Allah dan segala kebaikan yang kita terima dari rahmat dan berkah-Nya, maka merelakan kejahatan yang sempat kita terima dapat terasa lebih ringan. Hal ini pada akhirnya juga melatih diri kita untuk dapat dengan mudah memaafkan sekaligus menjadi pribadi yang kokoh dan tak mudah goyah hanya karena kejahatan manusia.