Keislaman

Keistimewaan Penebar Manfaat untuk Umat dibanding Seorang Ahli Ibadah

Layaknya seorang manusia tentu kita begitu memedulikan diri sendiri. Beragam kebutuhan dipenuhi untuk menunjang kehidupan pribadi. Meski sejatinya sah-sah saja, namun terlalu mencintai diri sendiri kadang kala membuat kita tidak peduli pada orang lain. Alhasil, manfaat diri yang seharusnya dapat dibagi hanya mentok sampai di ruang lingkup kita sendiri. Hal ini sejatinya bisa membuat kita rugi.

Bukan tanpa alasan, pasalnya ada keutamaan apa bila kita mampu menebarkan manfaat pada orang lain. Hal ini sebagaimana pernah diutarakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah bersabda,

Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223; Tirmidzi, no. 2682)

Hadist di atas menjelaskan tentang keutamaan orang berilmu dibanding dengan mereka yang ahli ibadah siang dan malam. Orang yang kaya ilmu dan berlapang hati menyebarkannya pada orang lain memiliki peluang pahala yang berkepanjangan. Hal ini lantaran mereka mampu menaruh manfaat yang berarti bagi kehidupan orang lain. Bagaimana tidak? Melalui ilmu yang dibagikannya secar cuma-cuma dapat membantu sesama untuk mengambil manfaat baiknya.

Sebaliknya, mereka yang ahli ibadah menjadi salah satu golongan yang cukup merugi. Amalan wajib maupun sunnah yang dilakukannya tanpa memedulikan orang lain tak memiliki peluang untuk mendapatkan pahala berlipat-ganda. Hal ini dikarenakan manfaat tersebut hanya sampai pada diri mereka sendiri. Sementara mereka berdiam diri ketika ada orang yang tengah dilanda kesulitan. Berdasarkan perumpamaan inilah mengapa berbuat baik pada sesama lebih utama dibanding memperkaya ibadah.

Kekayaan manfaat yang ditebarkan untuk kemaslahatan umat dianggap lebih baik dari pada beribadah semalam suntuk yang ditujukan untuk diri pribadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai hamba-Nya yang saling melengkapi kekurangan masing-masing. Hal tersebut dapat melatih diri kita untuk tidak terlalu egois dan mencintai diri sendiri sehingga tidak menaruh kepedulian pada orang lain. Tentu perkara ini lebih dianjurkan pelaksanaannya.

Related Articles

Back to top button