Umat manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki sifat sosial. Hal ini memungkinkan kita untuk dapat menjalin hubungan dengan orang lain. Ada yang berusaha mengambil keuntungan di dalamnya, namun ada pula yang memang sekedar memelihara tali silaturahmi saja. Apa pun latar belakangnya, manusia terutama umat Islam memiliki kewajiban untuk dapat terus menjaga dan memelihara hubungan dengan orang lain. Di antara banyak cara yang bisa dilakukan adalah dengan menghindari kesempatan menolak hadiah dari seseorang. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata,
“Adalah Rasulullah menerima pemberian hadiah dan membalasnya.” (HR. Bukhari)
Hadist di atas menjelaskan tentang keutamaan dari perbuatan menerima hadiah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun adalah orang yang tak pernah menolak hadiah dari para sahabat dan umatnya. Namun, beliau selalu memastikan terlebih dahulu barang yang akan diterimanya apakah benar-benar hadiah atau sedekah. Jika ternyata sedekah, biasanya beliau akan menolak dengan tujuan agar dapat diberikan pada orang yang lebih berhak menerimanya. Sebaliknya, jika hal tersebut adalah hadiah maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun akan dengan senang hati menerimanya.
Apa pun bentuk hadiahnya, besar atau kecil Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menolak sedikit pun pemberian dari orang lain. Bahkan, beliau selalu berusaha untuk dapat membalas hadiah yang diterimanya. Di balik kebiasaan tersebut terdapat keutamaan yang bisa kita dapatkan. Menerima pemberian orang lain memiliki arti bahwa kita menghargai kebaikan mereka. Sementara, membalas pemberian atau hadiah tersebut berarti bahwa kita pun berusaha menyenangkan hati orang lain agar merasa diperhatikan. Kedua hal ini sejatinya menjadi tanda dari hadirnya upaya untuk menjaga tali silaturahmi antar sesama.