Kehadiran Ramadhan mungkin menjadi waktu yang membahagiakan bagi anak-anak. Bagaimana tidak? Tanpa mereka ketahui makna yang sebenarnya, kegembiraan Ramadhan nyatanya telah sampai pada hati mereka. Momen berbuka puasa kerap kali menjadi pokok utama dari kebahagiaan tersebut. Sayangnya, hal ini tidak diimbangi dengan pemahaman jernih terkait kewajiban bagi umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa.
Agar pemahaman anak-anak terkait Ramadhan dapat semakin jelas, orang tua perlu menanamkan pengertian dari kewajiban ibadah puasa. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan hamba-Nya untuk melaksanakan ibadah tersebut. Bahkan, Dia sendirilah yang akan membalas amalan puasa yang dilakukan oleh hamba-Nya. Sebagaimana diketahui dalam suatu hadist bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,
“Setiap amalan anak Adam itu adalah (pahala) baginya, kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya,” (HR Bukhari, Muslim, Ibnu Majah, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menurut Rasulullah adalah pihak pertama yang akan membalas sendiri puasa Ramadhan yang dijalankan oleh umat Islam. Bukan tanpa sebab, pasalnya tidak ada satu pun orang yang rela menjaga hati dari hawa nafsu selama berpuasa kecuali hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tepat sekali, orang yang menjaga puasanya sudah tentu memiliki niat hanya untuk mengharapkan ridha Allah semata. Maka dari itu, puasa dikenal sebagai ibadah yang jauh dari riya’.
Hal inilah yang sejatinya melatar-belakangi pernyataan Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa diri-Nyalah yang akan membalas sendiri niat puasa hamba-Nya. Hal tersebut dilakukan lantaran Allah Maha Mengetahui tujuan dari setiap hamba yang melakukan ibadah puasa. Kerelaan hamba dalam melawan hawa nafsu adalah hal yang membuat ibadah puasa begitu utama. Maka dari itu, Allah mengkhususkan ibadah ini sebagai satu-satunya amalan yang utama di sisi-Nya dan akan dibalas langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.