Anak dan harta merupakan sebagian dari rezeki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala titipkan pada hamba-Nya. Fungsinya adalah agar seorang mukmin dapat senantiasa bersyukur terhadap pemberian Allah. Maka dari itu, hendaknya kita harus dapat menjaga dengan baik rezeki yang telah dititipkan Allah Subhanahu wa Ta’ala ini. Bukan tanpa alasan, pasalnya salah dalam mengelola rezeki akan membuat dampak yang besar dalam kehidupan kita. Maka dari itu, baik anak atau pun harta seharusnya tidak menjadi tempat untuk berbangga-bangga. Kaum muslimin dan muslimat yang telah menjadi orang tua bahkan wajib menjaga buah hati mereka untuk tidak berperilaku serupa.
Hal ini sebagaimana diketahui dalam suatu hadist bahwasanya Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta dunia, akan tetapi kekayaan yang hakiki itu adalah kaya akan jiwa.” (Shahih Muslim 1741)
Hadist di atas menjelaskan tentang makna kekayaan menurut Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kepada para sahabat dan umatnya beliau menyampaikan bahwa kekayaan yang sebenarnya bukanlah dilihat dari banyaknya harta. Kekayaan yang hakiki adalah kaya akan jiwa. Hal ini menandakan bahwa harta yang kita miliki tidak bernilai apa pun kecuali hanya ujian semata. Umat Islam perlu memahami hal ini agar tidak terjerumus dalam perkara dosa. Sebaliknya, dianjurkan agar kaum muslimin dan muslimat dapat senantiasa memperkaya jiwa dengan rasa syukur dan qanaah terhadap pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Anak-anak juga sebaiknya mulai memahami hal ini sedini mungkin. Orang tua juga perlu memberikan contoh yang baik dalam mengelola harta. Harta bukanlah untuk berbangga-bangga. Harta terbaik adalah yang dapat mendatangkan manfaat bagi orang lain dengan berinfak. Hal ini dapat melatih diri mereka untuk terbiasa hidup sederhana dan apa adanya. Bahkan, jika hidup mereka diberkahi dengan harta berlimpah dari orang tuanya pun, mereka tidak akan merasa berbangga diri. Sebaliknya, anak-anak ini akan tumbuh dengan jiwa yang kaya yakni jiwa yang memahami kebaikan bersyukur dengan segala nikmat yang telah diberikan Allah Ta’ala pada hidupnya.