Ketika tengah berada dalam suatu perkumpulan, biasanya kita akan memanfaatkan kemampuan berkomunikasi untuk menjalin silaturahmi. Bukan tanpa alasan, pasalnya bicara bukan sekedar hak seseorang saja tapi juga cara yang ditempuh untuk membina hubungan dengan sesama. Entah sekedar basa basi atau memang cukup peduli, komunikasi juga dianggap sebagai cara paling mudah untuk mendapatkan informasi terkini. Meski pun demikian, sejatinya kita dianjurkan untuk tetap dapat membatasi diri dalam berbicara pada sesama. Bahkan, kita dilarang untuk merasa pantas mengucapkan suatu hal yang pada dasarnya belum tentu disukai oleh orang lain.
Bukan tanpa sebab, pasalnya cara berkomunikasi yang kita gunakan atau hal yang kita sampaikan bisa menjadi alasan tak terduga dari masuknya kita ke Neraka kelak. Sebagaimana diketahui dalam suatu hadist bahwasanya Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam pernah bersabda yang berbunyi sebagai berikut ini,
“Sesungguhnya seseorang bicara dengan suatu kalimat yang dia anggap itu tidaklah mengapa, padahal dia akan dilemparkan di neraka sejauh 70 tahun perjalanan karenanya” (HR. Tirmidzi no. 2314)
Hadist di atas menjelaskan tentang salah satu penyebab umum dari mudahnya seseorang masuk ke dalam Neraka. Kepada para sahabat dan umatnya, Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam menyampaikan bahwa bicara dapat menjadi alasan dari terjerumusnya orang pada kehidupan akhirat yang penuh derita. Bukan tanpa sebab, pasalnya tidak semua pembicaraan yang kita lakukan dapat disenangi orang lain atau mampu membawa manfaat bagi sesama. Sebagai umat Islam kita harus mampu memerhatikan situasi dan kondisi di sekitar untuk menentukan pembicaraan macam apa yang diperlukan atau dibutuhkan. Bahkan, akan lebih baik jika kita pun dapat membaca ketidaksukaan seseorang terhadap topik obrolan yang berlangsung.
Jika kita menemui raut wajah yang berubah atau bahkan sanggahan dari lawan bicara, akan sangat tepat jika kita dapat menghentikan pembicaraan yang mungkin menyinggung dirinya. Kedua hal tersebut mengisyaratkan adanya ketidaksukaan terhadap hal yang kita bicarakan. Sebagai umat yang baik, kita harus mampu menangkan sinyal darurat ini. Selain dapat menghindari diri kita dari masalah dan perselisihan yang terjadi antar sesama, tindakan kita ini juga dilakukan untuk menjauhkan diri kita dari panasnya api Neraka. Maka dari itu, sangat penting bagi kita untuk dapat memelihara lisan dari perkataan keji yang tidak mendatangkan manfaat. Sebaliknya, pastikan selalu agar mulut kita terpelihara dengan membatasi percakapan atau lakukanlah sekedarnya.