Salah satu tanda keimanan seorang Mukmin dapat diketahui dari upayanya untuk selalu mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baik dalam ibadah atau pun tengah mencari nafkah, mengingat Allah sangat penting dilakukan untuk meraih tujuan agar tidak termasuk dalam golongan orang yang lengah. Meski pun demikian, agar Allah Subhanahu wa Ta’ala menerima dzikir kita sejatinya terdapat cara tepat yang bisa dilakukan oleh seorang Mukmin. Cara ini berkaitan pula dengan adab-adab berdzikir yang baik bagi seorang Mukmin. Hal ini sebagaimana diketahui dalam sal-Qur’an bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi sebagai berikut ini,
“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.” (QS. Al-‘Araf: 205)
Ayat di atas menjelaskan tentang tips atau cara yang bisa kita lakukan agar dzikir diterima dengan baik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yang pertama, seorang Mukmin hendaknya mengingat Allah dengan rasa takut dan rendah hati. Rasa takut kita pada Allah menandakan bahwa kita mengakui bahwa Allah Maha Kuasa. Kekuasaan dan kekuatan Allah tidak ada batasnya. Rasa takut kita juga mengantarkan diri kita untuk senantiasa taat dan patuh pada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara, rasa rendah hati membuat kita selalu rela untuk memohon dan menggantungkan hidup hanya pada Allah semata. Berdzikir dengan disertai perasaan ini, membuat upaya kita mengingat Allah terasa lebih ringan.
Tak hanya itu, ketika berdzikir hendaknya seorang Mukmin juga tidak mengeraskan suara. Allah Subhanahu wa Ta’ala bukanlah seorang manusia yang butuh pendengaran. Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Dia tidak butuh dzikir kita yang sekencang suara dentuman petir. Sebaliknya, dzikir yang disenangi Allah adalah yang terus berjalan di dalam hati dan pikiran meski lisan tidak bergema. Dzikir seperti ini menandakan bahwa kita sebagai hamba-Nya senantiasa mengingat-Nya dalam keadaan apa pun, meski tengah sehat atau sakit, sibuk atau luang, kaya atau pun miskin. Dzikir dengan hati dan pikiran juga diyakini menjadi cara paling tepat untuk terkoneksi selalu dengan Allah Ta’ala.
Yang terakhir dan tak kalah penting, hendaknya dzikir dilakukan setiap pagi dan petang. Dua waktu tersebut dianggap utama. Dzikir pagi adalah tanda bahwa kita selalu memulai kegiatan dengan mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara dzikir sore menjadi tanda syukur pada Allah ketika hari tersebut berakhir sesuai dengan harapan atau pun dengan berbagai rintangan. Hal ini lantaran kita mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Mengetahui yang terbaik bagi diri kita. Tak hanya itu, hendaknya umat Islam juga harus senantiasa menyempatkan dzikir di tengah padatnya aktivitas. Hal ini menandakan bahwa kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang lengah tanpa mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala.