Gerakan untuk berinfak kini semakin gencar dilakukan. Terlebih lagi sejak meruwatnya genosida yang dilakukan oleh kaum zionis terhadap rakyat Palestina, infak dikondisikan sebagai langkah untuk berjihad yang cukup mudah dilakukan. Hal ini sejatinya juga berkaitan erat dengan keutamaan dari infak itu sendiri. Selain menjadi sebab dari datangnya pahala, infak juga alasan dari terbangunnya kehidupan yang berkah. Sayangnya, tak banyak yang memahami infak seperti apa yang utama. Demi memeroleh pahala, banyak pihak yang memaksakan diri untuk berinfak. Pada kenyataannya, ada aturan yang perlu kita pertimbangkan terkait pelaksanaan infak.
Sebagaimana diketahui dalam suatu hadist dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
“Sebaik-baik shadaqah adalah yang lebih dari kebutuhan. Dan tangan yang di atas lebih baik dari pada tangan yang di bawah. Dahulukanlah pemberianmu untuk orang yang menjadi tanggunganmu”. [HR. Nasaiy]
Hadist di atas menjelaskan tentang nilai infak yang utama di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat dan umatnya beliau menyampaikan bahwa infak yang utama adalah yang merupakan kelebihan dari nilai yang dibutuhkan. Hal ini menandakan bahwa kebutuhan diri dan keluarga yang menjadi tanggungan kita lebih utama untuk dipenuhi terlebih dahulu. Jika setelah memenuhi semua hal tersebut lantas masih terdapat sisa rezeki, maka sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk menginfakkannya pada pihak yang membutuhkan. Hal ini sejatinya juga menjadi tanda tentang larangan menumpuk harta.
Bukan tanpa alasan, pasalnya harta yang disimpan-simpan biasanya tak akan mendatangkan manfaat bagi kita. Sebaliknya, ketika harta tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan bersama atau orang lain yang membutuhkan maka kita pun berpeluang untuk mendapatkan pahala. Tak hanya itu, menjadi pihak yang memberi pun nyatanya lebih bain dari pada pihak yang menerima. Hal ini lantaran kita telah berupaya untuk berbagi manfaat pada orang lain. Meski pun demikian, hindari aktivitas berbagi yang hanya dilakukan untuk memukau orang lain. Bukan tanpa alasan, pasalnya hal tersebut telah menyimpang dari tujuan utama melakukan infak yang sebenarnya.