Keutamaan Berbuat Baik pada Kerabat yang Bertamu Meski Sering Mengganggu

Keluarga dekat sering kali menjadi tempat untuk berbagi kebahagiaan bersama. Tidak jarang, seseorang meluangkan waktu khusus untuk dapat berkumpul dengan orang-orang tersayang. Meski pun demikian, sejatinya keluarga juga kumpulan dari orang-orang yang berbeda. Maka dari itu, perbedaan pendapat juga menjadi hal yang kerap hadir dalam ruang lingkup tersebut. Sayangnya, tak semua perbedaan pendapat dapat diatasi dengan tepat. Beberapa orang justru mudah tersulut amarah dan membuat perbedaan yang seharusnya indah menjadi susah dipermudah.

Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk dapat tetap berusaha menjaga hubungan tersebut agar mampu berjalan dengan baik. Meski sejatinya hal ini bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan, umat Islam tetap harus mengutamakannya. Bukan tanpa sebab, pasalnya terdapat keutamaan dari perkara berbuat baik pada keluarga terutama yang berasal dari satu rahim atau ibu yang sama. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang berbunyi sebagai berikut,

“… Dan barang siapa yang saudaranya datang kepadanya walaupun dia orang yang tidak baik, hendaklah ia segera menyambut kedatangannya, apakah ia berniat baik atau berniat buruk. Jika tidak mau menerimanya secara baik, maka orang itu tidak dapat mendatangi haudl (telaga Nabi pada hari kiamat)”. [HR. Hakim]

Hadist di atas menjelaskan tentang keutamaan berbuat baik pada keluarga, meski mereka dikenal bukan sebagai pribadi yang baik. Terkait hal ini, sejatinya terdapat beragam alasan dari kriteria orang yang tidak baik. Ada yang tidak baik bagi dirinya sendiri yakni malas mengerjakan shalat atau suka minum-minuman keras, ada pula yang tergolong tidak baik pada orang lain yakni yang kerap merugikan seperti gemar bergunjing, menipu, hingga mengadu domba. Kedua jenis golongan orang tidak baik tersebut mungkin juga ada pada bagian keluarga kita.

Meski pun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa apa pun latar belakang orang tersebut dan niat yang ada di dalam hatinya selama ia sedang bertamu ke rumah kita, kita dianjurkan untuk dapat tetap berbuat baik. Berbuat baik kepada tamu adalah hal yang mulia. Bahkan begitu mulianya hingga kelak di akhirat Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memasukkan hamba-Nya tersebut sebagai golongan yang bisa mengunjungi telaga Rasulullah. Ya, begitulah keutamaan dari berbuat baik pada kerabat yang juga belum tentu baik pada diri kita.