Manusia di mata Allah Subhanahu wa Ta’ala semuanya sama. Yang membedakan nilai di antara mereka hanyalah hatinya. Ya, hati adalah pusat dari diri seseorang. Pikiran dan perbuatan apa yang timbul kemudian bersumber dari hati yang terdalam. Tiada satu pun yang mampu menilai bagaimana situasi hati seseorang. Hanya Allah Yang Maha Tahu yang mampu menilai seluruhnya. Namun, jika kita cukup penasaran seperti apa sebenarnya hati yang bersih itu maka dapat kita peroleh melalui pemahaman berikut. Hal ini sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya,
“”Ya Rasulullah! siapakah orang yang terbaik itu? Maka beliau menjawab: “Yaitu orang mukmin yang bersih hatinya,” Maka ditanyakan lagi: “Apakah artinya orang yang bersih hatinya itu wahai Rasulullah? Beliau lalu menjawab: “Ialah orang yang takwa, bersih tidak ada kepalsuan padanya, tak ada kedurhakaan, pengkhianatan, dendam dan kedengkian.”” (HR. Ibnu Majah)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapat pertanyaan dari para sahabat beliau tentang orang yang terbaik. Beliau pun menjawab bahwa orang terbaik adalah orang yang bersih hatinya. Namun, para sahabat masih merasa bingung dengan pernyataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Maka mereka kembali menanyakan arti dari orang yang bersih hatinya. Kemudian, beliau pun kembali menjawab bahwa orang yang bersih hatinya adalah orang yang senantiasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Terikait hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tak sekedar memberikan pernyataan saja. Ketakwaan yang dimaksud beliau adalah ketakwaan yang sempurna kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesempurnaan takwa membuat hati seseorang jauh dari kepalsuan. Tak hanya itu, dalam hati yang bersih pun tidak akan ditemukan kedurhakaan dan pengkhianatan. Orang-orang yang sempurna takwanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mampu menghindari diri dari perasaan dendam dan dengki. Ya, begitulah sejatinya pemahaman akan hati yang bersih menurut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.