Tips Memperbaiki Diri Agar Rahmat Allah Selalu Menghampiri

Begitu banyak cara yang dapat kita lakukan untuk senantiasa disenangi oleh orang lain. Salah satunya adalah menjadi pribadi yang hangat dan mudah berkomunikasi dengan sesama. Namun, kadang kala setiap manusia memiliki urusan yang berbeda-beda. Perkara disenangi oleh orang lain terkini justru menjadi sebuah tuntutan yang dilakukan hanya untuk melancarkan niat pribadi semata. Sayangnya, tak banyak yang menyadari bahwa upaya untuk meraih simpati orang lain nyatanya justru menjadi sumber dari ketidak-sukaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Umat Islam dilarang melakukan perkara-perkara yang menjadi sebab hilangnya rahmat Allah kepada diri kita.

Hal ini sebagaimana diketahui dalam suatu hadist bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“… dan membenci kalian dari qiila wa qaola (memberitakan setiap yang didengar), banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Bukhari 2231)

Hadist di atas menjelaskan tentang tiga perkara yang sebaiknya dapat kita tinggalkan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala dapat terus merahmati hidup kita. Perkara pertama adalah qiila wa qaola atau yang dipahami juga dengan memberitakan setiap yang didengar. Umat Islam dilarang melakukan hal ini. Bukan tanpa alasan, pasalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganggap hal tersebut sebagai salah satu perbuatan dusta. Tak hanya itu, segala hal yang kita dengar pun sejatinya belum tentu benar. Jika kita menyampaikan hal tersebut bisa saja ada kemungkinan timbulnya kerugian bahkan fitnah bagi orang lain.

Yang kedua, hendaknya kita juga menjauhkan diri dari kebiasaan banyak bertanya. Pertanyaan mungkin saja cara yang baik untuk mendapatkan ilmu. Namun, jika bertanya dilakukan secara berlebihan dan bahkan membuat orang lain merasa terganggu mungkin kita harus menghentikan hal ini. Bukan tanpa alasan, pasalnya pertanyaan yang timbul kadang kala tidak lagi bertujuan untuk mendapatkan ilmu semata melainkan akibat adanya rasa ingin tahu yang tinggi terhadap perkara lain yang biasanya lebih sensitif. Hal ini juga dapat menimbulkan ketidak-nyamanan bagi orang yang menerima pertanyaan.

Terakhir dan tak kalah penting, agar rahmat Allah Subhnahu wa Ta’ala selalu mengiringi hidup kita pastikan selalu bahwa tidak ada tindakan yang kita lakukan terindikasi menyia-nyiakan harta. Harta adalah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Tujuan bagi kita adalah untuk memanfaatkannya dengan tepat. Menyia-nyiakan harta juga jadi salah satu tanda dari kufur nikmat. Salah satu cara yang paling berkah dalam memanfaatkan harta adalah dengan menafkahkan diri sendiri. Setelah itu, jika kita memiliki tanggungan maka wajib bagi kita untuk memenuhi nafkah orang-orang yang menjadi tanggungan.

Jika seluruhnya telah terpenuhi dan masih ada sisa rezeki, maka infakkanlah di jalan Allah Ta’ala. Itulah tiga perkara yang sering kita lalukan dan tanpa sadar telah menjadi sebab dari hilangnya rahmat Allah. Semoga dengan mengetahui hal ini kita tidak lagi melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut. Semoga kita dapat menjadi pribadi yang setiap harinya mampu selalu memperbaiki diri agar tidak terjerumus dalam perkara-perkara yang merugikan baik untuk diri sendiri atau pun orang lain. Dengan begitu, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan senantiasa memberkahi hidup kita dengan rahmat dan karunia-Nya.