Keislaman

Tak Banyak yang Tahu, Ini Alasan Timbulnya Kebencian Allah pada Kita

Mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup diri kita tentu saja menjadi tanggung jawab penuh dari diri kita sendiri. Bahkan, umat Islam dianjurkan untuk dapat hidup dengan mandiri tanpa bergantung pada orang lain. Sejak seseorang terutama laki-laki menginjak usia balignya, mereka sudah diwajibkan untuk mencari nafkah. Hal ini tak hanya menjadi sebuah kewajiban saja tapi juga nilai yang harus ada dalam diri seorang Mukmin.

Besar kecilnya nilai penghasilan hanyalah perkara angka saja. Cara seseorang dalam memeroleh penghasilan tersebutlah yang lebih utama. Namun, banyak juga kesalahpahaman yang sering kita jumpai tentang pemanfaatan harta penghasilan. Akibat merasa telah susah payah bekerja dengan keras untuk memenuhi kebutuhan, justru banyak orang yang enggan bersyukur dan memilih untuk menyia-nyiakan harta di jalan yang tidak tepat.

Sayangnya, tak juga banyak yang tahu bahwa menyia-nyiakan harta adalah satu di antara sebab timbulnya kebencian Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hamba-Nya. Hal ini sebagaimana diketahui dalam suatu hadist bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

Allah juga membenci orang yang banyak bicara, banyak pertanyaan dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Bukhari)

Hadist di atas menjelaskan tentang salah satu sebab dari timbulnya kebencian Allah. Menyia-nyiakan harta di jalan yang tidak diridai Allah Ta’ala adalah perkara yang termasuk dalam hal tersebut. Harta sejatinya merupakan titipan Allah. Meski kita telah bekerja sangat keras, tanpa adanya ijin dan rida Allah Ta’ala tetap saja harta belum menjadi hak kita. Maka dari itu, tatkala Allah telah memilih kita untuk mengelola harta, manfaatkanlah sebaik mungkin kesempatan emas tersebut.

Bukan tanpa sebab, pasalnya harta yang dibelanjakan pada hal tidak tepat seperti foya-foya, berjudi, bertaruh, atau mendukung pihak yang tak bertanggung jawab untuk membuat keonaran adalah bentuk dari cara menyia-nyiakan harta. Akibat dari perbuatan buruk tersebut, Allah bisa murka. Hal tersebut juga dapat menjadi alasan dari timbulnya kebencian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka dari itu, berupayalah untuk memanfaatkan cara yang tepat dalam mengelola harta.

Sebaik-baiknya harta adalah yang mampu membawa manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Gunakanlah harta untuk memenuhi kebutuhan diri, orang yang menjadi tanggungan kita, dan juga zakat. Jika setelahnya masih terdapat kelebihan, maka kita dianjurkan agar dapat memanfaatkannya untuk berbagi pada sesama. Berbagi yang sangat disarankan adalah pada pihak-pihak terdekat yang membutuhkan baik kerabat, keluarga, atau bahkan tetangga. Lantas, jika setelahnya masih terdapat kelebihan maka kaum duafa adalah pihak yang tepat untuk menerimanya.

Related Articles

Back to top button