Menuntun Buah Hati Menemukan Kawan Seiman untuk Bersama Bertumbuh dan Berkembang

Bidang akademik bukan satu-satunya lahan pendidikan yang dianggap penting bagi anak-anak. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka juga perlu mengenal dunia melalui langkah bersosialisasi. Keluarga merupakan ruang lingkup paling dekat dan sederhana yang bisa dimanfaatkan anak-anak dalam hal ini. Meski pun demikian, seiring bertambahnya usia dan kemahiran mereka juga membutuhkan teman sebagai pendamping yang sepadan dalam memahami dunia. Namun, orang tua juga wajib memberikan pengarahan yang tepat terkait cara dalam memeroleh kawan kepada buah hati mereka.

Tujuannya adalah agar harapan utama dalam memahami dunia secara baik dapat tercapai. Salah satunya adalah dengan mempertimbangkan latar belakang keyakinan yang dianut. Bukan tanpa alasan, pasalnya keyakinan yang sama dapat membantu memelihara anak-anak kita kemungkinan rusaknya gaya hidup dan prinsip. Hal ini sejatinya juga sesuai dengan tuntunan yang sering digadang-gadang oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana diketahui dalam suatu hadist bahwasanya beliau pernah bersabda, ‘Arrajulu ‘ala diini khalilii fal yandzhur ahadukum man yukhalil.’

Artinya: “Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman,” (HR. Tirmiżi)

Hadist di atas menerangkan tentang pentingnya memerhatikan latar belakang keyakinan seseorang dalam berkawan. Kepada para sahabat dan umatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa kepribadian seseorang bergantung pada agama yang dianut oleh temannya. Bukan tanpa alasan, pasalnya sepasang teman akan memiliki waktu kebersamaan yang cukup lama. Tentu saja hal ini dapat memengaruhi keduanya satu sama lain. Entah dalam hal kebiasaan, cara memandang sesuatu hal, atau bahkan cara menyelesaikan persoalan kerap kali mereka yang berteman akan saling mempertimbangkan dan memengaruhi.

Namun, jika teman tersebut memiliki latar belakang agama yang berbeda bisa saja cara yang digunakan bertentangan dengan agama Islam. Hal inilah yang sejatinya harus dihindari oleh seseorang terutama jika pada anak-anak yang baru saja mengenal dunia luar. Orang tua perlu memastikan sekaligus mengenal siapa teman terdekat buah hati mereka. Meski pada dasarnya umat Islam juga wajib menghargai umat lain namun pastikan bahwa anak-anak kita cukup sekedar menghargai keberadaan kawan non-Muslim saja tanpa mengenal lebih dalam cara mereka hidup dan berhubungan. Berbekal hadist di atas, jaga anak-anak dari kemungkinan buruk.

Berikan pengertian pada mereka bahwa teman yang baik berawal dari dasar keyakinan yang sama. Bersahabat dengan teman satu agama akan membawa keuntungan bagi diri kita karena akan saling mendukung dan mengingatkan aturan-aturan agama Islam. Hal ini juga dapat membantu buah hati agar senantiasa terpelihara akhlak dan kebiasaannya. Semoga dengan bertumbuh bersama teman yang sepaham keyakinannya dapat mengembangkan kepribadian yang sejalan dengan sunah-sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mari, sebagai orang tua kita selalu tumpahkan perhatian pada setiap fase kehidupan buah hati terutama dalam hal mencari kawan ini.