Inspirasi

Mengenal Sejarah Perayaan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah salah satu momen dalam sejarah Islam yang diperingati secara besar – besaran. Bukan tanpa sebab, pasalnya momen ini merupakan saat yang paling berkah dimana Allah SWT menurunkan rahmat – Nya berupa kelahiran nabi akhir zaman, yakni Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam Al – Qur’an Allah Ta’ala berfirman:

“Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya’: 107)

Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah rahmat terbesar bagi seluruh umat Muslim. Maka wajar kiranya bila perayaan Maulid Nabi dimeriahkan dengan beberapa acara seperti berkumpul bersama mendengarkan sirah Nabi, bersholawat pada Nabi, bersedekah dalam bentuk makanan, memuliakan kaum dhuafa, dan segala perbuatan baik lainnya.

Terkait perayaan hari bersejarah ini sejatinya telah dilakukan sejak dahulu kala. Banyak sekali pemuka – pemuka agama yang membuat acara besar – besaran untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, salah satu yang dipercaya sebagai orang yang melakukan perayaan hari besar ini pertama kali adalah Muzhaffaruddin Al-Kaukabri seorang Raja Irbil, kini terkenal dengan sebutan Irak.

Beliau menggelar perayaan pada tahun ke-7 Hijriyah bulan Rabi’ul Awal. Sejak saat itu, Maulid Nabi secara turun temurun selalu digelar di bulan yang sama. Namun, banyak yang beranggapan bahwa kegembiraan terhadap hari kelahiran Nabi termasuk perbuatan bid’ah. Pada kenyataannya asal muasal dirayakannya Maulid Nabi sendiri adalah berdasarkan salah satu hadist. Sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Itu adalah hari kelahiranku.” (HR. Muslim)

Hadist di atas menjelaskan tentang alasan utama mengapa Maulid Nabi diperingati secara turun menurun. Ya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pun rutin merayakan hari kelahirannya dengan berpuasa. Pada saat itu, Beliau ditanya mengapa berpuasa pada hari Senin. Lantas Nabi pun menjawab, “Itu adalah hari kelahiranku”. Tepat sekali, itulah sejarah sekaligus alasan mengapa kita selalu merayakan Maulid Nabi setiap tahunnya.

Melaksanakan beragam kebajikan yang dilakukan tak hanya untuk diri sendiri tapi juga orang lain adalah cara terbaik merayakannnya. Maulid Nabi juga saat paling tepat untuk mengingat kerja keras Rasulullah dalam menyebarkan agama Islam. Maka dari itu, kita pun merayakannya dengan bersholawat terhadap Nabi. Tentu, semua itu dilakukan semata – mata hanya untuk mengharap ridho Allah SWT.

Related Articles

Back to top button