Dalam ajaran agama Islam, kita dianjurkan untuk dapat memperbanyak manfaat. Manfaat yang dimaksud pun beraneka ragam. Namun, kebanyakan dari manfaat tersebut hendaknya ditujukan untuk dapat membawa kebaikan bagi diri sendiri dan juga orang lain. Tentu saja, hal ini bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Kabar baiknya, segala hal yang diupayakan untuk menghadirkan kebaikan walau pun sekecil biji zarrah tetap akan diganjar pahala oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, hendaknya umat Islam tidak menahan diri untuk mulai berbuat baik pada sesama.
Hal yang paling utama dapat mendatangkan pahala luar biasa apa bila kita mampu menjadi suri tauladan bagi orang lain. Sebagaimana diketahui dalam suatu hadist bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Barang siapa dapat memberikan suri tauladan yang baik dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut dapat diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat untuknya pahala sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun pahala yang mereka peroleh. Sebaliknya, barang siapa memberikan suri tauladan yang buruk dalam Islam, lalu suri tauladan tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh sedikitpun.” (HR. Muslim no. 4830)
Hadist di atas menjelaskan tentang keutamaan menjadi suri tauladan bagi sesama. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya berpesan bahwa hal tersebut adalah perkara yang sangat baik apa bila bisa kita lakukan. Tepat sekali, suri tauladan memiliki arti sebagai contoh, panutan, atau gambaran diri seseorang. Jika seseorang dapat memberikan gambaran diri yang baik dan memberikan manfaat bagi orang yang melihat atau mengikutinya maka mereka akan mendapatkan pahala kebaikan seperti orang yang mengikuti kebaikannya.
Sebaliknya, apa bila seseorang dalam hidupnya gemar menjadi contoh yang buruk bagi orang lain, seperti pemimpin yang korupsi atau tidak adil tentu akan membawa dosa yang amat berat. Bukan tanpa sebab, pasalnya dosa yang mereka terima bukan hanya dosa dari perbuatan mereka saja. Tepat sekali, dosa yang memberatkan timbangan mereka adalah dosa dari orang-orang yang juga mengikuti contoh buruknya. Bayangkan, jika terdapat begitu banyak contoh buruk yang diikuti orang lain dari dirinya maka akan ada banyak dosa pula yang memberatkan timbangan amalnya di hari perhitungan kelak. Naudzubillah min zalik.