Dalam menjalani hidup di dunia tentu saja akan selalu banyak tantangan dan ujian yang kita hadapi. Salah satunya adalah permasalahan dengan sesama manusia akibat perkataan yang tidak terkendali. Tidak jarang hal ini juga pada akhirnya menimbulkan perselisihan yang memungkinkan terjadinya adu fisik. Tentu saja akan ada pihak yang lebih tersakiti, baik secara batin mau pun lahir. Namun, Islam mengajarkan untuk dapat melepaskan dan memaafkan.
Meski memang sulit dilakukan, merelakan menawarkan keutamaan yang luar biasa. Hal ini sebagaimana diketahui dalam al-Qur’an bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qisas-nya (balasan yang sama). Barangsiapa yang melepaskan (hak qisasnya), maka itu (menjadi) penebus dosa baginya….” (QS. al-Maidah: 45)
Ayat di atas menjelaskan tentang keutamaan memaafkan. Meski sejatinya merupakan perkara yang berat dilakukan, memaafkan menawarkan keutamaan yang luar biasa. Benar sekali, orang-orang yang melepaskan haknya untuk membalaskan dendam atau kesalahan orang lain, maka Allah Ta’ala akan menganggapnya sebagai penebus dosa. Ya, sejatinya hal ini amat sulit dilakukan. Akan ada selalu godaan untuk melakukan hal yang lebih menyakitkan bagi orang lain.
Namun, bagi mereka yang mampu menahan amarahnya maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan berikan pengampunan dosa bagi dirinya. Hal tersebut dapat terjadi lantaran mereka telah berusaha keras untuk merelakan rasa sakit hatinya. Ya, orang-orang yang baik dalam mengelola hati agar tidak mudah terpancing emosi menjadi kebaikan tersendiri untuk mereka. Begitulah sejatinya keutamaan dari orang-orang yang mampu melepaskan hak mereka untuk membalas kejahatan yang dilakukan oleh orang lain.