Jangan Pesimis, Setiap Manusia Punya Hak Rezekinya

Mencari nafkah menjadi hal yang cukup sulit dilakukan untuk beberapa orang. Bukan tanpa alasan, pasalnya beberapa jenis pekerjaan sering kali membutuhkan latar belakang pendidikan yang sesuai sebagai syarat dari penerimaan karyawan. Hal ini pada akhirnya menjadikan kebanyakan orang merasa tidak percaya diri untuk mencari nafkah sendiri. Pada kenyataannya, umat Islam dianjurkan untuk dapat bergerak aktif dan mandiri. Mencari rezeki bahkan tak selalu harus melalui pekerjaan yang membutuhkan kriteria-kriteria penerimaan tertentu.

Dalam ajaran agama Islam, mencari nafkah yang paling afdal adalah yang dilakukan dengan jerih payah dan keterampilan tangan sendiri. Sayangnya, banyak orang yang merasa jenis pekerjaan tersebut kurang bergengsi. Mereka justru lebih senang rebahan dan mengulak media sosial untuk menjadi viral. Hal ini sejatinya merupakan tanda dari pesimisme dalam upaya mencari rezeki. Padahal, sejatinya rezeki telah membuntuti hidup kita sebagaimana ajal juga melakukan hal yang sama.

Di dalam suatu hadist Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

Sesungguhnya rezeki mencari seorang hamba sebagaimana ajal mencarinya.” (HR. Ath-Thabrani)

Hadist di atas menjelaskan tentang rezeki bagi umat Islam. Selain merupakan tanda dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, rezeki sejatinya juga hak setiap manusia. Tentu, kita sering mendengar bahwa rezeki dan ajal sudah diatur oleh Allah bukan? Kenyataannya, hal tersebut memanglah benar. Rezeki yang sudah diatur oleh Allah Ta’ala ini menandakan bahwa setiap manusia pasti akan mendapatkannya. Rezeki selalu mengikuti ke mana pun seseorang pergi.

Hanya saja, memerlukan usaha untuk membuat rezeki datang dengan mudah. Selain membenarkan bahwa pemberi rezeki adalah Allah, kita juga berkewajiban untuk melakukan upaya yang mampu membuahkan penghasilan. Saat Allah Ta’ala telah melihat usaha baik kita, maka Dia akan menghargai jerih payah kita tersebut dengan menurunkan rezeki halal yang terbaik yang bisa kita manfaatkan. Namun, perlu diingat bahwa sejatinya di dalam rezeki yang kita terima juga terdapat hak orang lain jika setelah semua kebutuhan terpenuhi.