Manusia yang merupakan makhluk sosial akan senang membina hubungan dengan sesama. Pada beberapa kesempatan, hubungan yang terjalin lebih dalam bahkan dapat membuat masing-masing merasakan kenyamanan. Hal ini pada akhirnya menimbulkan kesempatan untuk bertukar pendapat atau justru mengambil manfaat satu sama lainnya. Tentu saja, seluruh hal tersebut adalah perkara yang wajar terjadi. Selama tujuan di belakangnya tidak merugikan siapa pun, saling bertukar pendapat atau mengambil manfaat dianggap sah-sah saja. Meski pun demikian, tidak semua orang memiliki hati dan pikiran yang terbuka. Beberapa jenis orang bahkan hanya ingin mengambil keuntungan semata dalam sebuah hubungan.
Namun, saat tidak ada keuntungan yang bisa diperoleh ada beberapa jenis orang yang justru membongkar kejelekan-kejelekan orang lain. Pada kenyataannya, hal tersebut sangat dilarang. Bahkan, perilaku ini terbilang sebagai salah satu bentuk kezaliman. Hal ini sebagaimana Muhammad bin Sirin rahimahullahu berkata,
“Merupakan kezaliman terhadap saudaramu ketika engkau menyebut-nyebut darinya kejelekan-kejelekannya yang engkau ketahui serta engkau menyembunyikan kebaikannya.” [Shifatush Shofwah (3/245)]
Berbicara tentang kezaliman mungkin sebagian besar orang akan mengaitkannya dengan perbuatan-perbuatan jahat. Mencuri, melukai perasaan, mempermalukan, menyakiti secara fisik, hingga menipu dan menimbulkan kerugian bagi orang lain merupakan contoh-contoh dari perbuatan yang bersifat zalim. Namun, siapa yang dapat menyangka jika makna kezaliman nyatanya lebih luas dari yang kita ketahui. Dalam Islam, seseorang dapat dinilai berbuat zalim jika ia menceritakan kejelekan-kejelekan orang lain sambil menyembunyikan kebaikan yang pernah dilakukan orang tersebut. Baik secara sengaja atau tidak, sikap seperti ini juga dianggap sebagai bentuk kezaliman.
Bukan tanpa alasan, pasalnya terdapat dampak buruk dari perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang tak bertanggung jawab ini. Salah satunya sudah pasti sangat merugikan bagi orang yang dibicarakannya seperti menghilangkan kesempatan orang tersebut dalam membina hubungan, mengembangkan usaha, mendapatkan kepercayaan atau segala macamnya. Selain itu, sikap ini juga dapat menjadi awal mula dari timbulnya permusuhan. Bukan tanpa sebab, perbuatan tersebut dapat meninggalkan bekas luka yang mendalam pada hati seseorang. Hal ini menandakan bahwa orang tersebut tidak rida terhadap kita.
Maka dapat dipastikan bahwa hidup kita tidak akan dipenuhi berkah akibat menyakiti perasaan sesama. Oleh karenanya, sebagai bagian dari umat Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam sudah sepatutnya bagi kita untuk menghindari perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain. Bahkan, beliau pun lebih menganjurkan umatnya untuk menahan bicara ketimbang melakukannya lantas menyakiti hati sesama. Dengan senantiasa menutup kekurangan dalam diri orang lain yang kita ketahui semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala juga senantiasa menutupi kekurangan yang ada pada diri kita. Begitulah sejatinya sebaik-baik cara dalam menjaga diri kita dari kemungkinan berbuat zalim.