Ketika berbicara tentang orang-orang fakir, kita kerap kali menganggap mereka sebagai bagian dari kaum duafa. Bagaimana tidak? Fakir dalam pandangan kebanyakan orang adalah mereka yang sengsara hidupnya dan tak memiliki harta benda juga tenaga untuk memenuhi kebutuhannya. Namun, berbeda dengan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tidak melulu menganggap orang fakir sebagai orang yang miskin harta.
Sebaliknya, orang-orang fakir di mata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah mereka yang tak pernah merasa puas dan berkecukupan. Hal ini sebagaimana diketahui dalam suatu hadist bahwasanya beliau pernah bersabda,
“Sesungguhnya yang berkecukupan adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup, dan orang fakir adalah orang yang hatinya selalu rakus”. (HR. Ibnu Hibban)
Hadist di atas menjelaskan tentang pemahaman terkait orang fakir menurut Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau kepada para sahabat dan umatnya menyampaikan bahwa fakir yang sebenarnya bukanlah orang-orang yang tak memiliki harta. Kefakiran adalah sifat yang ada dalam diri seseorang yang justru selalu merasa haus akan harta. Biasanya, mereka tidak pernah merasa adanya kecukupan dari rezeki yang Allah Ta’ala berikan. Hatinya selalu rakus mencari kesempatan untuk menumpuk harta.
Pada kenyataannya, kecukupan adalah hal yang kita upayakan. Orang yang dipenuhi dengan kecukupan adalah yang hatinya selalu merasa cukup. Perasaan tersebut hadir lantaran mereka mengakui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baiknya pemberi rezeki. Tatkala mereka menyadari hal tersebut, mereka pun dengan senang hati mensyukuri segala nikmat yang Allah beri. Melalui perasaan syukur inilah, nikmat tersebut akan ditambah oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Begitulah sejatinya makna dari kefakiran dan kecukupan yang sebenarnya.