Di antara banyak cara yang bisa dilakukan oleh umat Islam untuk memeroleh pahala adalah dengan berbuat baik. Perbuatan baik juga sangat dianjurkan pelaksanaannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana tidak? Kebaikan akhlak seseorang yang terjaga dan terpelihara disinyalir mampu menyandingi level pahala ahli ibadah. Meski pun demikian, upaya kita untuk berbuat baik memang amat terbatas terutama jika berkenaan dengan harta. Maka dari itu, cara paling mudah yang bisa dilakukan adalah dengan senantiasa menampilkan keceriaan pada wajah kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Kamu tidak akan mampu berbuat baik kepada semua manusia dengan hartamu, maka hendaknya kebaikanmu sampai kepada mereka dengan keceriaan (pada) wajahmu.” (HR. al-Hakim (1/212)
Kepada sahabat dan umatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan bahwa sejatinya kemampuan manusia dalam berbuat baik amatlah terbatas. Terutama ketika berupaya untuk berbuat baik dengan harta, sudah pasti kita tidak dapat melakukannya terhadap semua orang. Harta adalah bekal kehidupan. Melalui harta seseorang dapat melanjutkan kehidupannya bersama orang-orang yang dikasihinya. Maka, yang lebih berhak atas harta kita adalah diri kita dan orang-orang yang menjadi tanggung jawab kita terlebih dahulu.
Jika setelah memenuhi kebutuhan diri dan keluarga masih terdapat sisa harta, hal tersebutlah yang dianjurkan bagi kita untuk menyedekahkannya kepada orang yang membutuhkan. Namun, sering kali kehidupan amatlah keras. Harta yang dimiliki kadang kala justru belum dapat mencukupi segala yang kita butuhkan. Oleh karena itu, berbuat baik kepada orang lain bisa kita lakukan dengan senantiasa berperilaku ceria di hadapan mereka. Hal ini sejatinya mengisyaratkan bahwa kita menyambut kehadiran orang lain. Perasaan inilah yang pada akhirnya memunculkan kebahagiaan di hati orang lain dan tentunya menjadi sebab datangnya pahala untuk diri kita.