Dampak Buruk Suudzon yang Terdengar Sederhana Namun Sangat Merugikan

Manusia adalah umat yang jauh dari nilai sempurna. Bagaimana tidak? Sifat alami yang ada dalam diri kita adalah mudah lupa. Hal ini memungkinkan manusia untuk berpeluang melakukan kesalahan tak hanya sekali atau dua kali. Bahkan, ada kesalahan yang dibuat tanpa sengaja. Kondisi ini terjadi lantaran memang pada dasarnya kita kerap berlaku khilaf. Termasuk pula dalam menilai diri orang lain. Tidak jarang tanpa mencari tahu lebih dalam, kita sering berpikir buruk. Hal ini membuat kita mudah suudzon terutama dalam menilai keikhlasan orang lain. Pada kenyataannya, perihal keikhlasan hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling berhak menilainya.

Sebagai sesama manusia kita tidak berhak menilai hal tersebut karena mampu mendatangkan dampak buruk terhadap diri dan hidup kita. Hal ini sesuai dengan pengalaman dari Makhul rahimahullah yang pernah bercerita,

Aku pernah melihat seseorang lelaki yang menangis dalam salatnya. Aku pun menuduh (keikhlasannya), bahwa dia menangis karena riya’. Akibatnya aku pun tak pernah bisa menangis dalam salat selama setahun.” (al-Uqubat libni Abi ad-Dunya: 63)

Ikhlas adalah sikap yang paling tinggi nilainya dalam kehidupan manusia. Bukan tanpa sebab, pasalnya keikhlasan adalah perkara keterkaitan hati untuk dapat melakukan kebaikan semata-mata hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Ketika ikhlas, kita mengesampingkan perhatian orang lain terhadap hal yang kita lakukan. Begitu berharganya sebuah keikhlasan hingga hanya Allah saja yang mengetahui dan berhak menilainya. Umat manusia dianjurkan untuk dapat menerima setiap hal apa adanya tanpa harus berpikir lebih jauh terutama jika berusaha mendahului Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam menilai diri orang lain.

Bukan tanpa alasan, pasalnya hal ini termasuk dalam kebiasaan buruk yang dapat merugikan diri kita sendiri. Seperti pengalaman dari Makhul rahimahullah yang pernah bersuudzon terhadap keikhlasan orang lain dalam berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saat itu, ia menyaksikan ada seorang laki-laki yang menangis tersedu-sedu dalam salatnya. Seketika, ia pun menuduh bahwa orang tersebut riya’, merasa ingin dipuji dengan sikapnya yang terlihat seolah sangat mencintai Allah hingga meneteskan air mata. Tanpa pernah ia sadari, hal tersebut adalah tindakan yang mendahului Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menimbulkan keburukan.

Ia pun pada akhirnya menuai hasil dari perbuatan suudzonnya terhadap orang tersebut. Sangat disayangkan, Makhul rahimahullah bercerita bahwa sesaat setelah ia menilai diri orang lain riya’ saat menangis dalam salatnya, sejak saat itu ia pun tidak dapat menangis dalam salat selama satu tahun. Hal ini terjadi lantaran Allah telah mencabut nikmat iman dalam hatinya yang membuat ia tidak mampu merasakan rahmat dan berkah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentu saja tidak ada yang pernah menyangka bahwa perkara sederhana ini mampu memberikan dampak nyata terhadap hidup kita bukan? Begitulah sejatinya bahaya dari suudzon yang sangat merugikan diri kita sendiri.