Berbohong Demi Mendamaikan yang Bertikai, Bolehkah?

Perdamaian menjadi salah satu perkara yang wajib ditegakkan dalam Islam. Tak hanya sesama kaum Muslimin saja, perdamaian juga sebaiknya harus ada di dalam sebuah keluarga. Bukan tanpa alasan, pasalnya terjaganya sebuah hubungan menjadi sebab utama mengapa seseorang atau umat Islam bisa memeroleh nikmatnya Surga. Meski pun demikian, kita juga tidak bisa memungkiri bahwa perdamaian termasuk salah satu hal yang cukup sulit dicapai.

Perbedaan latar belakang, pikiran, hingga tujuan membuat seseorang bisa saja berbeda pendapat dengan yang lainnya. Sayangnya, tak semua orang mampu mengatasi hal ini dengan baik. Perselisihan bisa saja terjadi dengan mudah. Namun, tetap saja kita bisa menemui orang-orang yang senang menjadi pihak pendamai. Berbagai upaya dilakukannya agar hubungan seseorang dengan orang lain dapat kembali rukun. Bisa jadi berbohong yang ditujukan untuk kebaikan juga dilakukannya.

Lantas, terkait hal ini apakah kita diperbolehkan berbohong untuk mendamaikan satu orang dengan orang lainnya. Sebagaimana diketahui dalam suatu hadist bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Bukanlah disebut pendusta orang yang menyelesaikan perselisihan di antara manusia lalu dia menyampaikan hal-hal yang baik (dari satu pihak yang bertikai) atau dia berkata hal-hal yang baik.” (HR. Bukhari no. 2495)

Hadist di atas menjelaskan tentang pendapat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam terkait orang yang berperan sebagai pendamai. Tidak jarang, demi membuat sebuah hubungan dapat terjalin kembali, pihak pendamai akan melalukan upaya salah satunya menceritakan hal-hal baik tentang satu orang kepada orang lain di dalam pertikaian. Biasanya hal-hal baik ini merupakan sebuah karangan belaka atau bisa juga dikatakan sebuah kebohongan. Namun, banyak yang menanyakan apakah kita boleh berbohong dalam hal ini?

Menurut Rasulullah, hal tersebut bukanlah sebuah kebohongan melainkan bagian dari upaya untuk mendamaikan. Seperti yang kita tahu, orang yang bertikai akan selalu mendapatkan hati dan kepalanya dalam amarah. Mendengar hal-hal baik tentang lawannya mungkin saja dapat melunakkan hati orang tersebut. Maka dari itu, berbohong sebagai bagian dari upaya mendamaikan sangat diperbolehkan. Bahkan, sang pendamai pun tidak termasuk dalam golongan pendusta karena yang dilakukannya semata-mata hanya untuk menyambungkan hubungan yang terputus saja.