Bahaya bagi Orang yang Kikir Menunaikan Zakat Sementara Ia Mampu

Harta menjadi salah satu bekal yang dibutuhkan umat manusia di dalam kehidupan dunia. Bagaimana tidak? Tanpa harta, seseorang tidak akan mampu memenuhi kebutuhan dirinya. Terlebih lagi jika ia memiliki tanggungan berupa istri dan anak, harta wajib dicari sebagai bentuk upaya menafkahi keluarga. Dalam pelaksanaannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan takdir yang berbeda-beda. Ada yang mencari harta lalu kelebihan akan jumlahnya. Di sisi lain, ada pula yang hanya mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Sayangnya, tak sedikit pula yang justru kewalahan mencari nafkah namun tak jua mendapatkannya.

Bagi mereka yang ditakdirkan Allah atas rezeki berlimpah, hendaknya tidak melupakan kewajibannya sebagai kaum Muslimin. Ya, harta yang sejatinya merupakan titipan Allah Ta’ala tersebut juga harus sampai pada orang-orang yang berhak menerimanya. Umat Islam dilarang keras menahan harta mereka untuk kemaslahatan orang lain terutama yang termasuk dalam golongan duafa. Hal ini sebagaimana diketahui dari Asma’ binti Abu Bakar radliallahu ‘anhuma bahwa dia menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu Beliau bersabda:

Janganlah kamu berkarung-karung (kamu kumpulkan harta dalam karung lalu kamu kikir untuk menginfakkannya) sebab Allah akan menyempitkan rezeki bagimu dan berinfaklah dengan ringan sebatas kemampuanmu.” (HR. Bukhari)

Hadist di atas menjelaskan tentang larangan mengumpulkan harta namun kikir dalam menunaikan kewajiban berzakat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada keluarga dan sahabatnya beliau menyampaikan bahwa perilaku tersebut dapat mendatangkan dampak buruk pada kehidupan seseorang. Ya, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menyempitkan rezeki bagi hamba-Nya yang menunda-nunda atau menolak kewajiban menunaikan zakat. Terlebih lagi jika orang tersebut dikarunia harta berlimpah, zakat harta semakin wajib untuk sesegera mungkin ditunaikan.

Tak hanya itu, kekikiran dalam membelanjakan harta di jalan Allah sejatinya juga dapat membuat seseorang jauh dari keselamatan. Kelak di akhir zaman, orang-orang yang kikir tak memiliki perlindungan dari hartanya yang melimpah ruah. Hal tersebut lantaran Allah Subhanahu wa Ta’ala enggan memberikan diri orang tersebut naungan. Pada kenyataannya, tidak ada hal yang lebih penting selain naungan Allah saat hari Kiamat tiba. Maka dari itu, hendaknya kita harus dapat mawas diri dalam mengelola harta yang dititipkan Allah Ta’ala pada kehidupan dunia. Semoga melalui harta tersebut langkah kita untuk menuai pahala dapat semakin mudah.