Pentingnya Memerhatikan Istitha’ah Kesehatan bagi Calon Jemaah Haji

Kesehatan jemaah haji jelang keberangkatan menuju Baitullah menjadi salah satu hal serius yang mendapat perhatian besar. Tak hanya dari masing-masing calon jemaah saja, pemerintah juga melakukan hal yang sama. Bukan tanpa sebab, pasalnya kesehatan tubuh dan juga mental menaruh peran yang sangat besar terhadap kesuksesan pelaksanaan ibadah haji bagi para jemaah. Sayangnya, sebagian besar calon jemaah beranggapan bahwa skrining kesehatan yang dilakukan pemerintah merupakan salah satu syarat agar dapat berangkat haji. Pada kenyataannya, kesehatan baik yang berkaitan dengan tubuh atau pun mental sejatinya merupakan bagian dari istitha’ah haji.

Hal ini sebagaimana tertulis di dalam al-Qur’an bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dan berbunyi sebagai berikut ini,

(Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam.” (QS. Ali Imran: 97)

Ayat di atas menjelaskan tentang perintah Allah kepada hamba-Nya untuk menaati kewajiban ibadah haji. Namun, ibadah ini hanya menjadi wajib bagi mereka yang tergolong mampu. Kemampuan seorang mukmin dalam menunaikan ibadah ini disebut juga dengan istilah istitha’ah dan diukur dalam beberapa cakupan. Mulai dari materi, keamanan, perlindungan, kecukupan kebutuhan bagi keluarga yang ditinggalkan, dan juga termasuk kondisi fisik dan mental sesaat sebelum keberangkatan. Seluruh hal tersebut dimanfaatkan sebagai cara untuk menilai apakah seorang mukmin dapat dianggap mampu untuk melaksanakan haji atau tidak pada tahun ini.

Di Indonesia, istitha’ah kesehatan jemaah haji telah diatur sedemikian rupa dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 15 Tahun 2016. Dalam peraturan tersebut tertulis bahwa istitha’ah kesehatan jamaah haji akan dinilai dari aspek kesehatan yang meliputi serangkaian pemeriksaan fisik dan mental. Melalui prosedur tersebut, jemaah haji yang lolos dalam peninjauan diharapkan bisa menjalankan ibadah haji sesuai dengan syariat agama Islam. Hal ini tentu saja dapat memudahkan para calon jemaah dalam menunaikan rukun-rukun haji yang sangat menguras tenaga. Meski pun demikian, keutamaan yang bisa didapatkan sungguh jauh lebih besar. Maka dari itu, menjaga kondisi tubuh agar tetap prima menjadi sebuah keharusan bagi calon jemaah haji.