Lisan merupakan salah satu nikmat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang amat luar biasa. Melalui lisan, kita tak hanya mampu berkomunikasi semata tapi juga dapat menjalin hubungan dengan sesama. Tak hanya itu, nikmat lisan dalam ajaran agama Islam bahkan mampu menjadi sebab utama dari datangnya pahala. Tentu saja, terkait hal ini kita wajib memastikan bahwa lisan kita harus tetap terjaga dari kemungkinan menyakiti orang lain. Bukan tanpa sebab, pasalnya lisan yang tak terjaga dapat menjadi sebab masuknya seseorang ke Neraka. Dari Mu’az bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
“Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu ? saya berkata: Mau ya Rasulullah. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda, Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk). Saya berkata, Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan? beliau bersabda, Ah kamu ini, adakah yang menyebabkan seseorang terjungkal wajahnya di neraka – atau sabda beliau: Di atas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka.” (HR. Turmuzi)
Hadist di atas menjelaskan tentang bahaya bagi umat Islam yang tidak menjaga lisan. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam kepada para sahabat dan umatnya menyampaikan bahwa lisan yang tak terjaga dari perkataan yang kotor atau buruk dapat menjatuhkan seseorang dengan mudah ke panasnya api Neraka. Bahkan, Rasulullah pun mengisyaratkan bahwa kebanyakan dari sebab manusia mendapatkan siksa di akhirat lantaran mereka tidak memerhatikan apa-apa saja yang dilontarkannya. Entah itu pendapat, ejekan, fitnah, caci maki, segalanya mampu membuat hati orang lain menjadi tersakiti.
Orang-orang yang belum mampu meridai rasa sakit hatinya akibat lisan orang lain inilah yang menjadi alasan utama bagi Allah Ta’ala untuk mempersiapkan Neraka sebagai tempat tinggal mereka yang tak mensyukuri nikmat lisan tersebut. Maka dari itu, hendaknya kita harus dapat selalu berupaya memelihara mulut dari hal-hal atau kata-kata yang tak bermanfaat. Apa pun bentuknya, entah itu amarah yang menggelora, keingintahuan yang menyebabkan gibah, hingga tuduhan yang berawal dari percakapan sebaiknya harus dapat kita hindari. Dengan senantiasa menjaga lisan diharapkan kita telah terlindungi dari perkara yang mampu menjatuhkan kita ke Neraka.