Dua Tugas Utama Umat Islam yang Diisyaratkan Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam

Umat Islam merupakan umat yang besar dan memiliki teladan yang paling mulia di antara teladan terdahulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam sebagai penyempurna akhlak manusia. Maka dari itu, segala hal yang beliau lakukan sudah sepatutnya menjadi contoh terbaik yang bisa kita ikuti agar mampu memeroleh keselamatan dunia dan akhirat. Hal ini menjadi tanda bahwa Allah telah memberikan ‘lampu hijau’ untuk Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam dalam membenarkan suatu hal sekaligus menyalahkan hal lainnya.

Ibadah adalah salah satu hal yang dibenarkan oleh beliau. Segala macam ibadah wajib dilakukan sesuai dengan syariat agama Islam. Bahkan, tidak ada paksaan terhadap pengerjaannya. Kita dianjurkan mendirikan ibadah sesuai dengan kemampuan kita. Hal ini sebagaimana diungkapkan dalam suatu hadist yang diketahui dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiallahu ‘anhu yang berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

Apa yang aku larang hendaklah kalian menghindarinya dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian adalah karena banyaknya pertanyaan mereka (yang tidak berguna) dan penentangan mereka terhadap nabi-nabi mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadist di atas menjelaskan tentang tugas utama umat Islam sesuai dengan yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Beliau kepada para sahabat dan umatnya menyatakan bahwa terdapat dua tugas utama umat Islam. Yang pertama, menghindari segala hal yang dilarang oleh Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Mengingat bahwa beliau adalah utusan Allah, maka segala hal yang dilarangnya memiliki pengertian bahwa sejatinya Allah yang membuat aturan terhadap larangan tersebut. Maka dari itu, kita wajib menjauhi segala bentuk perkara yang bertentangan dengan agama.

Sementara yang kedua, tugas utama umat Islam adalah melaksanakan segala hal yang dianjurkan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Perlu kita mengerti bahwa hal-hal yang Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam perintahkan tidak melulu berupa ibadah. Ada berbagai perbuatan baik lainnya yang juga sangat dianjurkan pelaksanaannya dan tentu saja menjanjikan pahala luar biasa. Namun, kabar baiknya tidak terdapat paksaan terhadap segala hal tersebut kecuali perkara yang telah diwajibkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan keringanan pada hamba-Nya yang ingin memperkaya amalan.

Namun, tentu saja amalan tersebut dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Bukan tanpa alasan, pasalnya Allah tidak melihat besar kecilnya sebuah amalan. Sebaliknya, Dia menilai ketulusan dari masing-masing hati hamba-Nya yang ingin berbuat baik. Maka dari itu, hendaknya segala perbuatan baik harus diniatkan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan karena meneladani kebiasaan Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam. Menentang apa yang diperintahkan beliau atau bahkan menambah-nambah bentuk amalan hanya akan membuat umat Islam mudah hancur karena kesombongan.