Media sosial kini menjadi ranah paling mudah untuk berinteraksi bagi manusia. Kecanggihannya bahkan membuat siapa saja mampu bertegur sapa meski belum pernah bertatap muka. Walau terdapat kebaikan dari hadirnya media sosial, sayangnya terkini ranah digital tersebut seolah-olah hanya berpihak pada satu sisi saja, yakni mereka yang dianggap ‘sultan’. Pada kenyataannya, hal yang terlihat dengan mata belum tentu seluruhnya nyata.
Sifat ‘kesultanan’ yang ada di pikiran kita menjadikan kita tak menerapkan perlakuan yang sama pada setiap orang. Demi mendapatkan perhatian dari yang dianggap ‘sultan’, kita bisa saja berlaku semena-mena pada orang lain. Pada kenyataannya, umat Islam dianjurkan untuk dapat berlaku lembut dan setara pada setiap orang. Bukan tanpa sebab, pasalnya kelemah – lembutan menjadi perhiasan dalam sebuah hubungan.
Sebagaimana diketahui dalam suatu hadist bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya kelembutan itu tidak berada pada sesuatu kecuali menghiasinya dan tidak dicabut dari sesuatu kecuali memperburuknya.” (HR. Muslim)
Hadist di atas menjelaskan tentang keutamaan memiliki sifat lemah lembut bagi seseorang. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya menjelaskan bahwa kelemah – lembutan dapat menjadi penghias dalam sebuah hubungan. Hiasan ini akan menjadikan hubungan antar seseorang dengan orang lain semakin baik dan erat. Dengan berlaku lemah lembut, akan tercipta kedamaian dalam sebuah hubungan.
Setiap orang pun dapat mengontrol cara mereka berkomunikasi atau pun bertindak. Hal ini pada akhirnya membuat sebuah hubungan menjadi lebih dekat da akrab. Perselisihan pun dapat diredam karena kedua belah pihak mampu mengatur komunikasi dengan baik. Situasi ini tentu saja dapat terwujud karena akhlak terpuji yang diterapkan pada sesama. Maka dari itu, pertahankan sebaik mungkin kelemah-lembutan dalam sebuah hubungan agar terjauhi dari perselisihan.