3 Kebiasaan Ini Cerminkan Kebodohan dalam Diri Seseorang

Cara bicara seseorang sering kali dianggap sebagai cerminan dari kemampuannya dalam berpikir. Bagaimana tidak? Ketika berbicara seseorang akan terlebih dahulu melalui tahapan-tahapan penyampaian informasi yang semuanya terhubung dengan kemampuan otak dalam mengolahnya mulai dari kemudahan dalam menyampaikan pendapat, cepat dalam menjawab, hingga beragam topik-topik pembicaraan dan perdebatan yang dikuasainya. Meski pun demikian, apakah seluruh hal ini telah benar-benar menjadi pertimbangan tepat yang dapat menggambarkan kecerdasan atau justru merupakan kebiasaan yang dibangun untuk sejatinya menutupi kebodohan seseorang?

Berkata Ibnu Athaillah al-Iskandari rahimahullah:

Bukti kebodohan seseorang adalah selalu menjawab semua pertanyaan, menceritakan semua yang dilihat, dan menyebut semua yang diketahui.”

Secara umum kita mungkin dapat sepakat jika waktu singkat yang dibutuhkan seseorang dalam menanggapi pembicaraan mencerminkan kemampuan ia dalam berpikir cepat. Namun, sering kali tidak banyak yang memahami bahwa hal yang disampaikan pun bahkan minim manfaat. Beberapa kebiasaan terkait hal ini juga dianggap sebagai cerminan dari sedikitnya ilmu yang dimiliki. Tentu, kita pernah menemui jenis orang yang sangat senang menjawab setiap pertanyaan bahkan tanpa diminta. Ya, orang-orang seperti ini sebenarnya tidak banyak mengetahui dunia. Oleh karena itu dia menutupinya dengan berusaha memahami topik pembicaraan yang bergulir dengan turut menaruh pendapat.

Sayangnya, ia kerap tidak memahami apa yang tengah dibicarakannya. Terkini, kita mengenalnya dengan istilah ‘ga nyambung’. Tak hanya itu, orang-orang seperti ini juga punya kebiasaan unik lainnya. Mereka gemar menceritakan segala hal yang dilihatnya. Namun, sering kali semua itu bukanlah perkara penting untuk disampaikan. Beberapa di antara mereka juga gemar menyebut segala hal yang diketahui. Tak lebih dulu berpikir baik buruknya, penting tidaknya, bermanfaat atau tidak orang-orang seperti ini adalah penyampai berita tercepat. Tentu saja hal-hal tersebut dilakukannya semata-mata untuk tetap terlihat aktif berpikir, terkoneksi dengan topik, sekaligus berusaha menutupi kebodohannya. Lantas, apa yang bisa kita simpulkan dari semua ini?

Sebagai umat Islam kita tentu dianjurkan untuk dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Berinteraksi mungkin penting, namun jika terlalu berlebihan biasanya hal ini dapat menimbulkan kegelisahan. Beberapa orang yang sejatinya tidak mampu akan senantiasa berusaha untuk bisa tetap terkoneksi dengan baik. Sayangnya, sebagian besar upaya yang dilakukan ini tidak lebih dulu disesuaikan dengan keadaan. Pada akhirnya, hal tersebut hanya akan menjadi gambaran nyata yang mencerminkan kebodohan dirinya. Maka dari itu, sebaiknya kita dapat membatasi diri terhadap hal-hal yang hanya mendatangkan manfaat saja. Tinggalkan interaksi dan komunikasi yang tanpa didasari dengan keinginan untuk semakin mendekatkan diri pada Ilahi.