Komunikasi adalah hal yang tak bisa kita hindari. Bukan tanpa alasan, pasalnya terdapat berbagai kemungkinan bagi kita untuk senantiasa melakukan perbincangan dengan sesama terkait banyak hal. Mulai dari ruang lingkup pekerjaan, tetangga terdekat, hingga anggota keluarga dalam rumah semuanya membutuhkan komunikasi agar bisa tetap terhubung. Meski pun demikian, sejatinya tidak semua orang memiliki kemampuan yang baik dalam membangun percakapan. Ada yang dapat menangkap sinyal, namun ada pula yang lebih suka apa adanya tanpa basa basi terlebih dahulu. Sayangnya, tidak semua orang pula dapat menerima cara komunikasi ini.
Beberapa orang kerap merasa terganggu dengan cara berhubungan yang kurang disukainya. Meski tidak salah memiliki perasaan tersebut, namun kita juga tidak bisa begitu saja menyalahkan orang lain. Lantas apa yang bisa kita lakukan agar tetap baik-baik saja ketika mendengar ucapan yang mungkin kurang berkenan di hati dan pendengaran? Berikut saran yang bisa dimanfaatkan menurut Syabib bin Syaibah,
“Siapa yang mendengar sebuah ucapan yang dia benci lalu diam tidak membalas, maka terputuslah darinya apa yang dia benci tersebut, namun jika dia membalasnya maka dia akan mendengar lebih banyak lagi hal-hal yang dia benci.” (Uyunul Akhbar: 1/400)
Merupakan sebuah hal yang wajar terjadi apa bila manusia merasa tersakiti ketika mendengar perkataan buruk tentang dirinya. Meski pun demikian, umat Islam dianjurkan untuk bisa tetap menahan diri dari godaan membalas hal yang sama. Bukan tanpa alasan, pasalnya dengan pembalasan terhadap sindiran atau celaan biasanya akan menimbulkan celaan lain yang bahkan terdengar lebih buruk. Hal ini terjadi lantara pihak yang mengeluarkan kata-kata buruk tersebut merasa terpancing dengan amarah kita. Inilah mengapa, mereka semakin senang untuk kembali menggoda kesabaran kita dengan terus mengeluarkan celaan lainnya.
Namun, akan berbeda ketika kita memilih untuk bersabar dalam menghadapi tingkah laku orang-orang seperti ini. Pilihan kita untuk tetap diam meski sejatinya merasa terganggu akan membuat mereka lelah karena terus menguras tenaga dan waktu untuk mencari-cari kesalahan kita. Inilah mengapa Syabib bin Syaibah mengatakan bahwa ketika kita memutuskan untuk tidak membalas cercaan orang lain maka perkataan tersebut juga hanya akan sampai di sana saja yang menandakan bahwa tidak akan ada kelanjutannya. Tentu saja, hal ini yang sangat kita inginkan bukan? Oleh karenanya, ketika dunia berceloteh seenaknya upayakan selalu untuk dapat menahan amarah meski sejatinya tidak mudah.