Terlalu Cinta Dunia Tumbuhkan Sifat Keras Hati

Dunia memang menjadi kehidupan yang kita jalani saat ini. Bahkan, umat manusia pun memiliki tugasnya masing-masing. Demi membangun perputaran dunia agar terselenggara dengan baik, ada banyak pihak yang bekerja sama dengan keras untuk mewujudkan hal tersebut. Meskipun demikian, umat Islam yang menjadi bagian dari dunia ini sejatinya memiliki tugas lain yang lebih utama, yakni bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sayangnya, akibat terlalu jauh berurusan dengan dunia menjadikan kita keras hati.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata,

Sebab-sebab kerasnya hati adalah: berpaling dari Allah Ta’ala, jauh dari membaca Al-Quran, sibuknya manusia dengan dunia, dan dunia menjadi tujuan (fokus) utama, sehingga dia tidak mementingkan urusan agamanya. Karena ketaatan kepada Allah akan membuat hati menjadi lunak, lembut, dan mau kembali kepada Allah.” (Fatawa Nur ‘ala ad-Darb 12/ 18-19)

Hidup di dunia adalah fase yang harus dilalui oleh setiap manusia. Tidak ada satupun diantara kita yang mampu menempuh kehidupan kekal tanpa terlebih dahulu berada di sini. Oleh karena itu, kita melakukan banyak hal sebagai upaya untuk memaksimalkan perputaran dunia. Namun, kerap kali cara ini menjadikan kita terlalu mencintai dunia akibat manisnya pandangan nikmat yang ada di hadapan. Tidak jarang, keadaan ini membuat manusia lupa terhadap tugas utama dari keberadaannya di dunia.

Akibat mudahnya berpaling dari Allah, tak jarang banyak diantara kita yang menjadi keras hati. Terlalu sibuk pada urusan duniawi juga memudarkan kecintaan kita pada al-Qur’an. Padahal, kitab suci tersebut adalah pedoman utama kehidupan. Apapun yang kita lakukan harus senantiasa berpatokan pada Qur’an. Hal ini membuat kita tidak lagi mementingkan urusan agama. Hati yang keras akhirnya menjadi penyakit utama yang benar-benar bersarang dalam tubuh kita.

Lantas, apa yang terjadi jika hati telah berubah menjadi keras? Secara umum, seseorang yang keras hati sangat sulit membedakan yang benar dan salah. Hal ini membuat penyakit hati lainnya tumbuh dengan mudah seperti sombong, iri, hasad, gemar mengadu domba, dan lainnya. Jika penyakit hati telah mudah tumbuh, maka seseorang akan lebih menyukai keburukan dan kejahatan daripada kebenaran dan kebaikan. Orang dengan hati yang keras juga sangat sulit bekerja sama dengan orang lain.

Sebab utama dari keadaan tersebut adalah terlalu mencintai dunia. Oleh karena itu, sebaik-baiknya cara menghabiskan waktu singkat di sini adalah dengan senantiasa menjaga ketakwaan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesederhananya usaha yang bisa kita lakukan adalah dengan selalu mematuhi perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya. Semoga dengan upaya kecil ini, kita dapat selalu terpelihara dari buruknya sifat keras hati. Sebaliknya, hati kita akan semakin lunak dan lembut jika senantiasa bersama Allah Ta’ala.