Sebab Mudahnya Manusia Alami Gangguan Kesehatan

Tubuh manusia tidak didesain untuk dapat menghindari gangguan kesehatan. Bukan tanpa alasan, pasalnya layaknya kesabaran kekuatan tubuh pun memiliki batasan. Ketika telah mencapai batasnya, tidak jarang keadaan drop seketika mengintai. Meskipun demikian, sejatinya bukan lingkungan yang menaruh pengaruh besar pada pertahanan kondisi tubuh kita. Sebaliknya, diri kita sendirilah yang bertanggung jawab besar terhadap keadaan tubuh secara keseluruhan.

Hal ini biasanya disangkut pautkan pada kemampuan mengatur emosi. Bukan tanpa sebab, pasalnya pikiran dan hati manusia menjadi alasan utama dari mudahnya kondisi tubuh terganggu. Terlebih lagi jika kita kerap mendramatisir hal yang tidak harus dipedulikan seperti manusia, tentu saja kemungkinan tubuh bagi tubuh kita alami gangguan sangat besar. Hal ini sebagaimana Abdullah bin Aun rahimahullah pernah berkata,

Mengingat manusia adalah penyakit sedangkan mengingat Allah adalah obat.” (Siyar Alam an-Nubala 6/369)

Tak banyak yang menyadari bahwa sejatinya penyakit datang dari kebiasaan yang kita lakukan. Entah itu terkait begadang, merokok, mengkonsumsi alkohol, kecanduan obat-obat terlarang, makan berlebihan, hingga kurangnya intensitas asupan cairan semuanya menjadi sebab-sebab utama dari timbulnya gangguan kesehatan. Bahkan, dalam Islam penyakit manusia pun lebih mudah datang ketika kita tidak mampu menjaga kesehatan mental dan perasaan.

Hal ini biasanya berkaitan erat dengan tindak tanduk manusia lain di sekitar kita. Ada yang mampu menyenangkan tapi tidak sedikit juga yang mengganggu pikiran. Keduanya kerap menjadi sebab utama dari hadirnya gangguan kesehatan. Bukan tanpa sebab, pasalnya energi dan pikiran kita telah habis dipergunakan untuk memikirkan orang lain. Sebagian besar dari pikiran tersebut hanya membawa rasa sakit dalam hati saja.

Manusia yang mampu kita anggap memiliki nilai melebihi diri kita sendiri. Lantas kita pun merasa terganggu dengan kehidupannya. Sementara, manusia yang kurang justru sering mengusik diri kita untuk menghadirkan tempat bergantung. Saat ketulusan belum datang, akhirnya kehadiran mereka membawa gangguan bagi kita. Semua jenis manusia ini kerap menghabiskan waktu dan tenaga kita hanya untuk sekedar diingat dan diperhatikan.

Itulah mengapa kita menjadi mudah terkena penyakit secara fisik. Hal ini terjadi karena kita terlalu sering memikirkan hidup orang lain. Sebaliknya, menurut Abdullah bin Aun rahimahullah mengingat Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sebaik-baiknya obat. Umat Islam mengenal langkah ini dengan sebutan berdzikir. Bahkan, dzikir kerap dianggap sebagai obat terbaik bagi manusia karena mampu menghadirkan ketenteraman. Sesuai dengan firman Allah di dalam al-Qur’an,

Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Qs. ar-Ra’du: 28)

Ada banyak bentuk dzikir yang bisa diamalkan oleh umat Islam. Namun, dzikir sederhana dan utama lagi bisa dilakukan kapanpun adalah menyebut Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil azhim yang Artinya: “Maha Suci Allah dan Segala puji hanya bagi-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung.” Tak sekedar pahala, mengamalkan dzikir ini diharapkan mampu memberikan ketenangan jiwa dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah sebaik-baiknya amalan bagi umat Islam.