Pentingnya Menyembunyikan Kesulitan Selama Tidak dengan Cara Berlebihan

Di antara banyak cerita dan penampakan indah kehidupan pemengaruh media sosial, tidak ada yang pernah tahu kebenaran apa di balik semuanya. Sebagian besar orang memang sedang hobi berbagi kesenangan. Ada yang turut senang melihatnya, namun ada pula yang justru timbul rasa iri dan dengki. Memang, segala perasaan tersebut tidak bisa dihindari, tapi tetap saja kita wajib untuk senantiasa mengontrol diri agar bisa fokus pada hidup yang dijalani. Meski pun demikian, banyak juga yang beranggapan bahwa terdapat gelora terlalu ‘membangga-banggakan’ dari orang-orang yang senang membagikan momen-momen hidupnya di media sosial. Sayangnya, kita memang tidak mengetahui secara pasti alasan apa di balik hal ini.

Namun, jika kita dapat sedikit atau mencoba berpikir positif, membagikan momen bahagia selama tidak berlebihan dan dengan tujuan benar sejatinya patut dipertimbangkan. Sebagaimana Ibnul Jauzi Rahimahullah berkata:

Menyembunyikan kesulitan-kesulitan itu adalah termasuk menutupi rahasia karena dengan menampakkannya akan membuat senang orang yang benci kita dan akan membuat sedih orang-orang yang mencintai kita” Shaydul khatir:/247

Mungkin saja ada banyak alasan dan tujuan dari kebiasaan berbagai cerita atau gambar di media sosial. Sebagai manusia biasa, kita pun tidak dapat mengendalikan cara orang lain berpikir dan berpendapat. Namun, satu hal yang bisa dipertimbangkan dalam perkara ini adalah membagikan cerita bahagia memiliki makna sebagai cara paling sederhana dalam menyembunyikan kesulitan yang sedang kita alami. Bukan tanpa alasan, pasalnya menurut Ibnul Jauzi Rahimahullah sikap tersebut adalah bagian dari upaya untuk menutupi rahasia. Umat Islam dianjurkan untuk senantiasa pantang menyerah terhadap setiap keadaan yang sedang terjadi.

Kesulitan menjadi hal yang pasti dan pernah dilalui setiap orang. Namun, menyembunyikannya dengan cara yang baik termasuk dalam langkah menutupi aib. Bukan tanpa sebab, pasalnya kesulitan hidup yang terungkap dapat membuat senang dan puas orang-orang yang membenci kita. Sebaliknya, hal ini justru dapat membuat sedih orang-orang yang mencintai diri kita. Oleh karenanya, selama cara yang kita lakukan tidak berlebihan sangat dianjurkan bagi kita untuk dapat menjaga setiap keburukan yang dialami untuk tidak menjadi konsumsi umum. Hal ini juga merupakan tindak dari pertolongan pertama untuk diri sendiri saat tengah mengalami guncangan hebat dari musibah yang dialami.

Jika kita sendiri telah berusaha untuk membuat diri kita tetap tegar, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun juga akan melakukan hal yang sama terhadap hidup kita. Meski pun demikian, tentu saja hal ini harus dilakukan dengan benar tanpa niat untuk membangga-banggakan diri dan kemampuan. Menutupi kesulitan tidak melulu dapat dilakukan dengan memamerkan keindahan dan kebahagiaan. Namun, pastikan selalu bahwa orang lain memandang diri kita sebagai pribadi yang senantiasa stabil apa pun keadaan yang tengah terjadi. Saat senang dan sukses, kita tidak terlalu bangga sementara saat sulit kita pun tak terlalu terpuruk. Keahlian ini sangat penting untuk dipelajari agar diri kita terlatih menjadi pribadi yang kuat dan tegar.