Keislaman

Mengenal Shohibul Qurban dan Syarat Wajibnya

Shohibul Qurban menjadi sebutan yang cukup khas terdengar ditujukan bagi orang-orang yang menunaikan ibadah kurban. Kurban adalah salah satu ibadah sekaligus perintah langsung yang datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Shohibul Qurban menandakan bahwa seorang mukmin telah berusaha untuk melaksanakan perintah berkurban dengan niat dan tujuan hanya untuk mengharap rida Allah semata. Bukan tanpa alasan, pasalnya perintah tersebut memang harus ditunaikan oleh seorang Mukmin yang memenuhi syarat menjadi shohibul qurban, salah satunya adalah seorang Muslim. Sebagaimana diketahu dalam al-Qur’an bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Katakanlah: sesungguhnya shalatku, sembelihanku (qurban), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-An’am ayat 162)

Meski telah secara langsung disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, perintah berkurban sejatinya hanya diperuntukkan pada orang-orang yang sesuai dengan syarat shohibul qurban lainnya yakni mampu. Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu ia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Artinya: “Barang siapa mempunyai keluasan rezeki (mampu berqurban) tetapi ia tidak mau berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat kami bersembahyang.” (HR. Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

Hadist di atas menerangkan tentang kewajiban berkurban bagi umat Islam yang mampu. Kepada para sahabat dan umatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa mampu yang dimaksud diartikan sebagai keluasan rezeki yakni terdapatnya harta berlebih di luar dari kebutuhan hidup diri dan keluarga. Kaum Muslimin dan Muslimat yang berada dalam kondisi berkelebihan rezeki hukumnya wajib berkurban. Bahkan jika mereka tidak mengeluarkan harta untuk ibadah ini, rezeki mereka terhitung tidak berkah. Sementara, bagi kaum Muslimin dan Muslimat yang tidak memiliki kelebihan rezeki maka mereka tidak diwajibkan atas ibadah ini. Sebaliknya, bisa jadi mereka merupakan bagian dari golongan orang-orang yang berhak menerima daging kurban.

Yang terakhir dan tak kalah penting, berkurban wajib dilakukan oleh orang yang telah baligh dan berakal. Hal ini ditujukan agar niat ibadahnya sampai dan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika seseorang berada dalam keadaan belum baligh, mabuk, gila, hingga kehilangan akal sehat maka tidak ada kewajiban bagi dirinya untuk menunaikan ibadah kurban. Itulah sejatinya beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang kaum Muslimin dan Muslimat sebelum menjadi shohibul Qurban. Semoga informasi ini berguna dan dapat menuntun Sahabat pada ibadah kurban yang diridai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, aamiin yaa robbal alamin.

Related Articles

Back to top button