Mengenal Istidraj, Jebakan bagi Manusia Lalai dan Kerap Khilaf

Hubungan timbal balik merupakan hal yang nyata dalam kehidupan dunia. Apapun keadaannya, seseorang akan selalu berhadapan dengan keadaan ini. Baik terkait perkara pribadi, hubungan dengan keluarga, ataupun hubungan bersama rekan kerja dan tetangga kondisi timbal balik akan selalu memenuhi segalanya. Sayangnya, tak banyak yang peduli hal ini ketika menyangkut hubungan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Seringkali kita mengesampingkan hubungan timbal balik yang tumbuh antara diri kita dengan Allah Ta’ala. Khilaf menjadi alasan utama dibalik hal ini. Ya, sifat lupa manusia kerap membuat mereka kufur nikmat. Namun, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap mendatangkan berkah dan rezekinya kepada umat manusia meski sejatinya mereka sering lupa. Sayangnya, tak banyak yang menyadari makna sebenarnya dari keadaan tersebut.

Dari Ugbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Bila kamu melihat Allah memberi pada hamba dari (perkara) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan kepada-Nya, maka (ketahuilah) bahwa hal itu adalah istidraj (jebakan berupa nikmat yang disegerakan) dari Allah.” (HR. Ahmad, 4:145. Syaikh Syu’aib A-Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan dilihat dari jalur lain)

Kepada para sahabat dan umatnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menyampaikan bahwa sejatinya umat Islam harus waspada ketika Allah senantiasa memberkahi hidup seseorang dengan berbagai kenikmatan meski ia terus berada dalam kebiasaan maksiat. Hal ini pada dasarnya merupakan tanda-tanda dari istidraj. Istidraj sendiri adalah jebakan berupa nikmat yang disegerakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada seseorang yang lalai.

Saat hidup seseorang dipenuhi dengan kebiasaan maksiat dan dosa, namun Allah tetap menghadirkan nikmat kepadanya sejatinya orang tersebut harus waspada. Bukan tanpa sebab, pasalnya seluruh nikmat yang diterimanya tersebut bukanlah bentuk kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, nikmat ini adalah jebakan yang dihadirkan untuk menjerumuskan orang-orang yang lalai dan sesat agar tetap menghasilkan dosa.

Tak ada peluang bagi mereka untuk keluar dari kondisi tersebut. Dengan banyaknya nikmat yang diterima, orang-orang yang lalai biasanya semakin menggila dan tidak menyadari bahwa Allah-lah di balik hadirnya segala kebahagiaan duniawi yang diterimanya. Istidraj adalah jebakan yang sering menjadi alasan utama bagi manusia untuk terjerumus lebih dalam pada perbuatan dosa dan maksiat. Naudzubillah min zalik, semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang tertipu dengan istidraj.