Memaafkan Orang Lain Bukti Kuat Terpeliharanya Akhlak yang Utama

Umat Islam memahami bahwa pemahaman akan Mukmin yang baik biasanya dikaitkan dengan akhlak. Ya, hal ini memungkinkan bahwa penilaian seseorang disandarkan kepada sikap yang diperlihatkannya kepada orang lain. Kebaikan akhlak mungkin sering dimengerti dengan sebisa mungkin memperkaya diri dengan berbagai manfaat bagi orang lain. Namun, ada pula yang beranggapan bahwa akhlak mulia juga bisa dilihat dari upaya seseorang untuk meminimalisir kerugian bagi orang lain meski ia tidak mampu berbuat banyak kebaikan.

Tentu saja, seluruh pemahaman tersebut benar adanya. Selama kita mampu mengontrol sikap agar tidak menyakiti sesama menjadi pertanda bahwa kita telah berusaha semaksimal mungkin untuk senantiasa menerapkan akhlak yang mulia. Namun, di zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ada pandangan menarik tentang akhlak yang utama di kalangan para sahabat. Hal ini sebagaimana Al Hasan Al Bashri pernah berkata yang berbunyi sebagai berikut ini,

Dahulu para sahabat menyatakan bahwa seutama-utamanya akhlak adalah memaafkan kesalahan orang lain.” (Az-Zuhd li Ahmad 1656)

Akhlak sendiri secara umum dimengerti sebagai sifat yang melekat erat dalam diri seseorang. Sifat inilah yang menentukan cara seseorang berpikir dan mengambil keputusan. Tidak jarang kita juga memahami bahwa akhlak adalah ciri khas dari diri kita atau orang lain. Akhlak membedakan satu orang dengan orang lainnya. Dalam agama Islam, kaum Muslimin dan Muslimat dianjurkan untuk senantiasa menjaga akhlak. Tujuannya adalah untuk menciptakan hubungan yang baik antar sesama.

Sejatinya, pembahasan tentang akhlak sangat luas. Namun, kita dapat mempersempitnya menurut kriteria yang utama seperti yang diyakini oleh para sahabat di zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam. Bagi Muslim, salah satu akhlak yang utama berkenaan dengan memaafkan kesalahan orang lain. Tentu saja akan terasa sangat menyakitkan ketika ada pihak yang menyakiti perasaan. Terutama jika yang menyakiti adalah orang-orang terdekat dan kepercayaan, memaafkan adalah hal yang pastinya sulit dilakukan.

Namun, Islam mengajarkan sebaliknya. Kita dianjurkan untuk dapat memaafkan kesalahan orang lain. Selain dapat memperbaiki hubungan yang renggang, mudah memaafkan orang lain dapat menjadi sebab dari bertambahnya kemuliaan diri dan diangkatnya derajat kita oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tak hanya itu, Allah juga akan menurunkan ampunan lagi memberikan ridha-Nya. Ketika memaafkan, kualitas diri kita juga semakin baik karena pikiran dan tubuh menjadi lebih sehat. Seluruh keutamaan tersebut menjadi alasan kuat mengapa memaafkan orang lain termasuk akhlak yang utama.