Ada banyak hal yang kerap dianggap sebagai takaran dari nilai kebahagiaan. Pada umumnya, perkara ini sering dikaitkan dengan kepemilikan harta dan simpanan. Meski tidak sepenuhnya salah, nilai kebahagiaan dalam ajaran Islam bahkan terbilang lebih luas dari sekedar adanya harta dan bentuk nikmat duniawi lainnya. Seorang Mukmin yang memiliki hal-hal sederhana ini dalam hidupnya juga terbilang paling beruntung hingga pantas membuat iri Mukmin lainnya. Terkait hal ini, Syaikh Abdurrahman as-Sa’dy rahimahullah pernah berkata,
“Orang yang paling membuat iri adalah orang yang mendapatkan rezeki yang mencukupi, rumah yang melindungi, istri yang membuatnya ridha, dan terbebas dari hutang yang membebani dan menyakitinya.” (Al-Fawakih asy-Syahiyyah, hlm. 8)
Sumber kebahagiaan bagi setiap orang mungkin berbeda-beda. Namun, ada baiknya jika hal tersebut tidak hanya sekedar mendatangkan rasa bahagia saja tapi juga ketenangan dan kenyamanan. Bukan tanpa sebab, perkara-perkara yang mendatangkan kebahagiaan seringkali sesaat. Pada akhirnya tidak didapati rasa tenang dan nyaman dari hal tersebut. Namun, berbeda dengan orang-orang yang diberkahi dengan rezeki yang setidaknya mampu memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya, tentu keresahan hati dan pikiran dapat sirna.
Terlebih lagi jika hal ini dilengkapi dengan tempat tinggal yang nyaman, istri yang membuat ridha, hingga terbebas dari hutang tentu saja tidak ada kenikmatan lain yang dapat menggantikan keadaan tersebut. Semua hal yang disebutkan ini mungkin terbilang perkara sederhana. Namun, tidak semua orang bisa mendapatkannya. Ada yang memiliki banyak harta, tapi tidak dilengkapi dengan keluarga bahagia. Disisi lain, ada yang memiliki keluarga lengkap namun tak menghuni tempat tinggal yang layak dan aman. Ada pula yang memiliki keduanya tapi justru terlilit masalah hutang yang berkepanjangan.
Benar, memang tidak ada keadaan dan kebahagiaan yang sempurna. Namun, jika seorang Mukmin diberkahi dengan keluarga yang lengkap dan sehat, rumah kecil tapi nyaman dan mampu melindungi, kebutuhan yang terpenuhi semuanya meski tidak berlebih, ditambah tak ada masalah keuangan yang melilit dalam kehidupannya, sungguh Mukmin tersebut termasuk dalam jenis orang yang beruntung dan patut membuat iri. Hal ini pada akhirnya membuat kita sadar bahwa kekayaan harta bukan segalanya. Keluarga yang harmonis juga bukan segalanya.
Yang terpenting adalah sikap kita untuk senantiasa mensyukuri apapun bentuk nikmat yang Allah beri. Dengan demikian, kita akan senantiasa ridha atas segala pemberian-Nya tanpa pernah memikirkan besar kecilnya atau sempurna tidaknya nikmat tersebut. Hal ini kelak juga akan mengarahkan kita pada sikap qanaah, yakni kemampuan untuk menerima bahwa setiap rezeki dan takdir yang kita terima dalam bentuk apapun adalah ketetapan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita pun akan mulai memahami bahwa Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi kita sehingga keadaan apapun yang kita hadapi tak akan lagi membuat kita merasa terganggu.