Kehidupan seseorang di dunia pada dasarnya adalah sebuah tempat untuk mengumpulkan bekal. Kelak, bekal ini akan bermanfaat untuk dibawa pada kehidupan sebenarnya yang kekal dan abadi. Umat Islam memahami kehidupan tersebut dengan istilah akhirat. Oleh karenanya, memperkaya diri dengan berbagai kebaikan yang mendatangkan pahala dianggap sebagai bentuk paling mudah yang bisa dilakukan sebagai bekal menuju akhirat. Namun, kerap kali banyak di antara umat manusia yang hanya fokus pada upaya penyebaran kebaikan semata tanpa berusaha menghindari hal-hal yang justru sebenarnya mendatangkan dosa.
Hal ini tentu saja dapat menghilangkan pahala yang telah didapatkan. Ya, ada beberapa bentuk kebiasaan yang kerap dianggap sepele dan sejatinya menjadi sebab dari timbulnya dosa. Salah satunya adalah tidak berusaha menjaga lisan. Hal ini sebagaimana Imam An-Nawawi yang pernah berkata,
“Seorang berkata kepada temannya: Berapa yang kau temukan dari aib-aib anak Adam? Dia menjawab: Banyak sekali, yang saya hitung saja sebanyak 8000 aib. Namun aku mendapati satu perangai, jika engkau lakukan maka bisa menutupi semua aib tersebut. Temannya berkata: Apa itu? Dia menjawab: Menjaga lisan.” (AI Adzkar 1/423 An Nawawi)
Lisan yang senantiasa terjaga dengan baik adalah sumber dari besarnya peluang bagi umat manusia untuk bisa memeroleh kehidupan akhirat yang diharapkan. Bukan tanpa alasan, pasalnya dengan memelihara setiap perkataan yang keluar dari mulut kita dapat meminimalisir kemungkinan tersebarnya aib-aib umat manusia. Hal ini lantaran sebagian besar dari terbukanya aib disebabkan karena kita tidak mampu menjaga lisan. Entah itu aib diri sendiri atau pun orang lain, keduanya dapat dengan mudah menguap ke permukaan akibat ketidakmampuan diri manusia dalam memelihara perkataan.
Ketika aib telah terbongkar, maka besar sekali peluang bagi siapa saja untuk mendapatkan dosa kecuali mampu menahan diri untuk menutupnya sebaik mungkin. Hal ini menandakan bahwa upaya yang dilakukan oleh seseorang dalam menjaga lisan dapat menyelamatkan dirinya dari kemungkinan buruk tersebut. Maka dari itu, sangat penting bagi kita berusaha sebaik mungkin dalam memelihara perkataan. Sedikit hal yang keluar dari mulut kita dapat menjaga diri dari kesempatan untuk berbuat dosa. Inilah mengapa diam dianggap ‘emas’ karena bernilai lebih utama dari pada banyak bicara namun merusak suasana dan hubungan antar sesama.