Urusan duniawi seringkali menjadi alasan dari timbulnya berbagai kekhilafan. Bukan tanpa alasan, pasalnya manusia adalah tempatnya lupa. Ketika berbicara atau bertindak biasanya kerap terpancing dengan keadaan. Hal ini memungkinkan manusia untuk melakukan kesalahan karena kurangnya pertimbangan dalam menghadapi persoalan. Tidak jarang, orang-orang berubah pandangan terhadap kita yang pada dasarnya tidak bermaksud untuk menyakiti. Namun, apa daya perkataan dan perbuatan yang terlanjur keluar tidak dapat ditarik kembali.
Saat menghadapi permasalahan ini, banyak orang yang cukup mudah menyerah. Tapi tentu tidak sedikit juga yang masa bodoh dengan penilaian orang lain terhadap dirinya. Sebaliknya, sebagai umat Islam kita tidak bisa berperilaku tanpa memikirkan perasaan orang lain. Bukan tanpa alasan, pasalnya ridha Allah Azza wa Jalla salah satunya tergantung pada baik tidaknya hubungan kita dengan sesama manusia. Lantas, apakah hal yang bisa kita perbuat terkait hal ini? lbnu Katsir rahimahullah berkata,
“Jika seorang mukmin memperbaiki batinnya, maka Allah akan menampakkan kebaikan zhahirnya kepada manusia.” (Tafsir lbnu Katsir 7/361)
Bukan merupakan tugas manusia untuk berusaha menjadi sempurna. Hal ini membuat kita mau tidak mau menerima kenyataan bahwa manusia sejatinya berpeluang untuk terus bertindak khilaf. Namun, bukan berarti bahwa hal ini tidak bisa diminimalisir. Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah dengan secara rutin melakukan introspeksi diri. lbnu Katsir rahimahullah berkata bahwa introspeksi diri yang tepat dimulai dari batin kita. Seorang Mukmin dianjurkan untuk dapat terlebih dahulu memperbaiki batin.
Hal ini dapat dimulai dengan menyadari segala perbuatan buruk yang dilakukan. Umat Islam perlu secara rutin menyesali tindak tanduk yang diperbuat sehingga sempat menyakiti orang lain. Tindakan ini sejatinya menjadi awal paling mudah dan sederhana yang bisa dilakukan saat kita membuat kesalahan. Setelah menyadari dan menyesalinya, saatnya bagi kita untuk memohon ampunan pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mintalah ampunan terhadap segala kesalahan yang disengaja atau tidak. Cara ini membantu kita untuk membuka solusi lainnya.
Tepat sekali, ketika kita telah berusaha memperbaiki keadaan batin, Allah juga akan menolong kita dengan menampakan kebaikan zhahir kita kepada manusia lainnya. Hal ini menandakan bahwa pemulihan diri dari kesalahan sejatinya dapat tercapai melalui usaha kita secara pribadi. Setelah melihat niat baik kita ini, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan melakukan sisanya yakni menurunkan aura kebaikan yang terpancar dalam diri kita. Hal ini bahkan dapat juga dirasakan oleh orang lain sehingga mereka turut merasa aman dan nyaman terhadap diri kita saat ini.