Mata menjadi salah satu sumber nikmat bagi umat manusia. Bagaimana tidak? Melalui indra penglihatan ini, kita memiliki banyak kesempatan untuk melakukan beragam hal. Mulai dari beribadah, mencari nafkah, bersosialisasi, hingga menyebarkan manfaat pada golongan yang membutuhkan semuanya memerlukan kemampuan melihat yang baik. Bukan tanpa sebab, pasalnya mata dan pandangan kita turut membantu cara kita melakukan sesuatu. Namun, sering kali kita diterpa godaan yang biasanya membuat diri jauh dari rasa syukur atas nikmat penglihatan tersebut. Bukannya berlomba-lomba memperkaya amal baik, sering kali kemampuan memandang sesuatu hanya digunakan pada hal yang berbau maksiat dan minim manfaat.
Tak sekedar merugikan diri sendiri, pandangan yang tak terjaga dengan baik ini juga dapat menimbulkan kerugian bagi orang lain. Bagaimana tidak? Indera penglihatan kita menjadi salah satu sebab dari mudahnya hati merasakan iri dan dengki dengan pencapaian dan kesuksesan orang lain. Oleh karenanya, apa pun hal yang dipandang sekaligus tujuan di belakangnya sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk dapat sekuat tenaga menjaga pandangan. Hal ini sebagaimana diketahui dalam suatu hadist bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda,
“Pandangan adalah salah satu dari panah beracun iblis. Barang siapa yang menahan pandangannya karena Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya.” (HR. AI-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875)
Rasulullah kepada para sahabat dan umatnya menyampaikan bahwa nikmat penglihatan yang kita miliki ini sejatinya merupakan salah satu dari panah beracun iblis. Dengan jahatnya, iblis memanfaatkan ini untuk memunculkan godaan pada manusia agar dapat terjerumus pada perbuatan dosa dan maksiat. Banyak hal buruk yang bisa terjadi mulai dari peluang untuk berzina, memata-matai orang lain, bergunjing, hingga mungkin memfitnah. Segala perbuatan tersebut adalah buah dari panah beracun iblis yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada hadist di atas. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk dapat berupaya senantiasa menjaga pandangan mata. Melalui hal ini, kita diharapkan dapat terjaga dari godaan iblis yang mampu menjerumuskan pada perbuatan dosa.
Sebagian besar dari perbuatan tersebut tentunya sangat merugikan diri kita dan juga orang lain. Bagi kaum Muslimin dan Muslimat yang senantiasa untuk menjaga pandangan mata, Allah Subhanahu wa Ta’ala berjanji untuk memberikan keutamaan berupa manisnya iman. Apa hal yang akan kita rasakan ketika iman telah terasa manis dalam dada? Biasanya, orang-orang yang menerima keutamaan ini membenci kekafiran, dusta, juga perdebatan. Orang-orang yang merasakan manisnya iman akan terbebas dari segala macam belenggu dan mampu memandang positif segala hal dengan keahlian yang baik dalam membuat manis yang terasa pahit, membuat lapang yang terasa sempit, juga mengambil nikmat dari hal yang sulit.