Keislaman

Halal dan Haram, Aturan Sederhana Sarat Makna

Dunia merupakan sumber nikmat bagi umat manusia. Nikmat tersebut sejatinya telah dipersiapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai rezeki yang dapat dimanfaatkan oleh hamba-Nya. Sungguh besar rahmat dan karunia Allah hingga kita pun tidak mampu menghitungnya satu per satu. Sayangnya, akibat terlalu menikmati rezeki tersebut sering kali manusia lupa bahwa Allah Ta’ala yang menciptakan segalanya. Hal ini pada akhirnya membuat umat manusia bertindak sewenang-wenang. Salah satu contoh tindakan tersebut adalah menentukan sendiri hal-hal yang halal dan haram.

Pada kenyataannya, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan perbedaannya melalui berbagai firman yang Dia turunkan kepada utusan-Nya yakni Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, kerap kali umat manusia dilanda kesombongan hingga membuat mereka khilaf dan keluar dari syariat Islam. Sejatinya, aturan Islam amatlah mudah. Bukan tanpa alasan, pasalnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada seluruh umat manusia segala bentuk yang ada di bumi. Hal ini sebagaimana tertulis di dalam al-Qur’an bahwasanya Allah berfirman,

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin.” [QS. Luqman: 20]

Ayat di atas menjelaskan tentang pernyataan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seluruh nikmat yang ada di muka bumi ini. Allah menjelaskan bahwa baik hal yang ada di bumi dan di langit seluruhnya telah dipersiapkan untuk dimanfaatkan oleh umat manusia guna mendukung kehidupannya. Hal ini menandakan bahwa Allah mengizinkan kita untuk memanfaatkan rezeki tersebut. Namun, Allah Ta’ala telah menetapkan aturan terkait hal yang halal dan haram. Dapat kita pahami bahwa aturan ini amatlah sederhana namun memiliki dampak yang kuat terkait keberlangsungan hidup umat manusia.

Telah jelas aturan terkait perbedaan dari kedua hal ini. Sayangnya akibat khilaf, umat manusia menjadi sombong hingga merasa berhak menentukan sendiri hal tersebut. Pada kenyataannya, Allah telah dengan sangat jelas membedakan kedua perkara ini. Sementara hal-hal yang Dia diamkan memiliki arti bahwa hal tersebut mengandung hukum mubah atau boleh-boleh saja dilakukan selama memberikan manfaat. Sejatinya aturan Islam amat sederhana. Kita hanya tinggal mengikutinya saja. Tujuannya adalah agar kita mendapat keselamatan dan keberkahan dalam hidup baik di dunia mau pun akhirat kelak.

Related Articles

Back to top button