Keislaman

Dampak Baik dan Buruk Terlalu Ringan dalam Berucap

Salah satu nikmat yang patut kita syukuri pada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah lisan. Bagaimana tidak? Melalui kemampuan berbicara akan ada banyak peluang kebaikan bagi diri kita untuk membina hubungan dengan sesama. Tentu saja, hubungan yang terpelihara mampu mendatangkan keuntungan entah itu dalam memperkaya pahala mau pun mempermudah urusan dunia.

Sayangnya, sering kali kita dilanda khilaf atas kemudahan dalam memanfaatkam nikmat tersebut. Bukannya menjadi penyebab beratnya timbangan amal di akhirat, lisan nan ringan melontarkan komentar sembarangan justru dapat menjadi alasan terperosoknya kita dalam panasnya api Neraka. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan keridhoan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karena sebab perkataan tersebut Allah meninggikan derajatnya. Dan sungguh seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, dan karena sebab perkataan tersebut dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Bukhari & Muslim)

Hadist di atas menjelaskan tentang sebab utama Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan pahala sekaligus azabnya pada kita. Nikmat lisan adalah perkara di balik hal tersebut. Tepat sekali, kemampuan berbicara yang apa bila dimanfaatkan untuk menyebarkan hal-hal baik namun kita menganggapnya ringan tentu saja mampu mendatangkan balasan berupa ditinggikannya derajat kita oleh Allah.

Memuji dengan tulus, memberi saran, hingga memanfaatkannya untuk membela kebenaran adalah salah satu jenis perkataan ringan yang utama. Sebaliknya, berbicara yang dilakukan seenaknya tanpa memikirkan dampak tertentu terhadap yang menerima maupun mendengarnya justru mampu menjerumuskan kita pada Neraka yang begitu amat panas. Bagaimana tidak? Nikmat lisan yang tak terjaga berpeluang untuk menimbulkan sakit hati pada sesama.

Alhasil, perselisihan menjadi salah satu dampak yang mungkin terjadi akibat nikmat lisan yang tak disyukuri. Maka dari itu, umat Islam benar-benar dianjurkan untuk dapat menaruh perhatian lebih terhadap perkara yang satu ini. Salah kaprah dalam memanfaatkan kemampuan berkomunikasi bisa jadi alasan bagi kita untuk menjadi pihak yang mudah memicu kesalah-pahaman antar sesama.

Related Articles

Back to top button