Memperbaiki diri adalah salah satu langkah yang biasa diambil oleh manusia tatkala pernah melakukan kesalahan. Beberapa diantara kita bahkan dianggap berubah menjadi pribadi yang baru saat telah mampu meninggalkan kehidupan buruk di belakang. Banyak yang menilai bahwa kita telah dapat menuju pada fase baru kehidupan dengan harapan tak ada lagi perangai yang mungkin menyakiti seseorang. Namun, sejatinya manusia sangat jauh dari sifat sempurna.
Seberapa besar langkah mereka dalam memperbaiki diri, tentu saja belum dapat luput dari kemungkinan timbulnya kesalahan. Bahkan, perubahan diri yang kita upayakan tidak bisa dibuktikan lebih lanjut kecuali kita sendiri memperhatikan tanda-tanda yang ada di sekeliling diri kita. Meskipun demikian, sejatinya kita perlu memahami bahwa untuk dapat berubah ke arah yang lebih baik dibutuhkan pengujian lebih lanjut kualitas diri kita dalam menghadapi beberapa keadaan. Luqman berkata kepada anaknya,
“Wahai anakku, ada tiga macam orang yang tidak dibuktikan kecuali dalam tiga keadaan,
1.Orang yang lemah lembut tidaklah terbukti kecuali ketika dia marah.
2.Orang yang pemberani tidaklah terbukti kecuali saat berperang.
3.Orang yang benar-benar saudara tidaklah terbukti kecuali saat kita sedang membutuhkan.” [Al-Adabusy Syariyyah (jilid 2/hal 562)]
Kualitas diri kita sejatinya belum dapat diketahui dan terbukti dengan benar jika belum menghadapi keadaan tertentu. Salah satunya adalah keadaan saat kita marah. Sesuai dengan perkataan Nabi Luqman Alaihissalam kepada anaknya bahwa orang yang terlihat lemah lembut tidak terbukti kecuali saat dia marah. Kita dapat menilai lebih lanjut cara seseorang menghadapi amarah, apakah dengan kesabaran atau justru perasaan kesal. Orang yang benar kelembutannya akan memilih untuk bersabar.
Sementara itu, tidak ada orang yang terbukti benar-benar memiliki keberanian kecuali ia yakin untuk berjihad saat perang. Kita mungkin sering melihat jenis orang yang suka merundung seolah ia paling kuat. Namun, kekuatan tersebut tidak dapat terbukti kecuali saat ia mengikuti perang. Akankah situasi perang yang mencekam membuat ia tetap berani menghadapi lawan atau justru trauma dengan segala bentuk perselisihan secara fisik maupun mental yang mungkin diterima.
Terakhir dan cukup penting adalah kebaikan yang kita lakukan tidak akan terbukti kecuali ada pihak yang membutuhkan bantuan. Di saat ini tentu akan dapat terlihat dengan jelas apakah kebaikan yang ada di dalam hati kita benar adanya atau hanya pura-pura. Jika kita berusaha membantu orang tersebut dengan segala kemampuan sudah pasti tidak diragukan lagi kebaikan yang ada di dalam hati kita. Namun, jika sebaliknya yang terjadi maka kita perlu berpikir ulang tentang introspeksi diri.
Itulah beberapa tanda yang perlu kita perhatikan dan pikirkan kembali tentang upaya perbaikan diri kita. Dengan senantiasa memperhatikan ketiga hal tersebut, diharapkan bahwa upaya perbaikan diri yang dilakukan tidak sia-sia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu menjaga kita pada langkah-langkah muhasabah yang benar agar hasilnya bisa dirasakan tak hanya oleh diri sendiri tapi juga orang di sekitar kita. Hindari pula berbagai peluang timbulnya penyakit hati agar jauh dari rasa bangga diri.