Sebab Datangnya Kesulitan Saat Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu dalam ajaran agama Islam termasuk dalam salah satu perbuatan mulia. Hal ini lantaran dengan ilmu yang bermanfaat, manusia memiliki kesempatan besar untuk bisa menjadi pribadi yang baik. Bukan tanpa sebab, pasalnya ilmu membantu kita untuk dapat membedakan yang benar dan salah. Keadaan ini tentunya menjadi pendukung utama terhindarnya diri kita dari berbagai macam godaan untuk berbuat dosa.

Namun, sejatinya ada banyak kondisi yang dilalui oleh umat manusia dalam perkara menuntut ilmu. Ada yang mau melakukannya, ada pula yang tidak. Ada yang mudah menerimanya, ada pula yang tidak. Bahkan, setelah upaya besar dan panjang masih terdapat golongan-golongan yang masih sulit dalam memeroleh ilmu. Terkait hal ini, adakah sebab tersendiri yang menjadi alasan di balik sulitnya jalan mendapatkan ilmu yang bermanfaat?

Sebagaimana pengalaman dari Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah yang pernah melantunkan bait syairnya sebagai berikut ini,

Aku pernah mengadu kepada guruku Waki terkait jeleknya hafalanku. Maka beliau mengarahkanku untuk meninggalkan kemaksiatan seraya berkata, ketahuilah bahwa ilmu adalah keutamaan dan kemuliaan, dan keutamaan Allah tidak điberikan untuk orang yang bermaksiat.” [Ad-Da’u wad Dawa (1/132)]

Sesuai dengan pengalaman yang dialami oleh Imam Asy-Syafi’i, beliau pernah bertanya kepada gurunya terkait masalah yang dihadapinya tatkala menuntut ilmu. Di kesempatan tersebut, Imam Asy-Syafi’i menyampaikan tentang kesulitan yang dialami saat menghafal ayat-ayat Al-Qur’an. Sang guru pun tidak langsung mengecam atau menuduh kelalaian dari Imam Asy-Syafi’i. Sebaliknya, guru tersebut hanya berusaha untuk menjelaskan yang terjadi.

Dalam hal ini, beliau diberi penjelasan oleh sang guru bahwasanya ilmu adalah berisikan tentang keutamaan dan kemuliaan. Hal ini membuat ilmu memiliki nilai yang sangat tinggi. Oleh karenanya, baik keutamaan ataupun keutamaan tidak akan diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang-orang yang berbuat atau mencoba bermaksiat terhadap-Nya. Sang guru akhirnya mengarahkan Imam Asy-Syafi’i pada langkah pertobatan.

Tobat sendiri adalah upaya memohon ampunan kepada Allah. Manusia awam akan selalu dikelilingi oleh sifat mudah lupa. Baik yang disengaja atau tidak, disadari atau tidak, manusia memiliki kesempatan besar untuk berbuat dosa dan maksiat akibat mudahnya kita terjerumus dalam khilaf. Itulah mengapa sang guru pun menganjurkan Imam Asy-Syafi’i untuk sesegera mungkin menyadari kesalahan apa yang pernah diperbuat dan segera bertobat.

Hal ini sejatinya merupakan masalah yang mudah datang kepada siapa saja saat berupaya menuntut ilmu. Jika kita mendapat kemudahan dalam memerolehnya, maka kita wajib untuk mensyukuri nikmat tersebut. Sebaliknya, jika upaya menuntut ilmu tak jua membuah hasil sangat baik bagi kita untuk mengikuti arahan sesuai pengalaman Imam Asy-Syafi’i. Introspeksi diri adalah perkara utama yang harus diikuti dengan langkah tobat selanjutnya. Semoga dengan cara tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan jalan mudah bagi kita dalam menuntut ilmu.