Terlilit Hutang, Cara Allah Menghinakan Seseorang di Dunia

Berhutang mungkin menjadi salah satu jalan keluar terakhir yang dapat diambil untuk menyelesaikan masalah keuangan. Dalam Islam, menghutangi orang yang tengah membutuhkan bahkan menawarkan pahala yang jauh lebih besar dari sekedar infak. Meskipun demikian, bukan berarti berhutang benar-benar dianjurkan terlebih lagi jika tujuannya hanya untuk memenuhi gaya hidup semata atau bahkan tidak berniat untuk melunasinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu saja akan menurunkan azab tersendiri bagi orang-orang yang melepas tanggung jawab hutangnya. Tak hanya itu, terlilit masalah hutang dalam keadaan yang tidak diperkenankan bahkan dianggap sebagai sebuah kehinaan. Imam Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata,

Apabila Allah Ta’ala hendak menghinakan seorang hamba, Dia akan menjadikan hutang sebagai kalung yang melingkar di lehernya.” (ath-Thabaqat al-Kubra karya asy-Syarani, jilid l, hlm. 41)

Ada makna tersembunyi di balik masalah keuangan yang tak kunjung selesai. Bagi orang-orang yang menyalahgunakan tujuan berhutang, hingga membuatnya terlilit masalah keuangan yang tak ada habisnya sejatinya merupakan tanda bahwa Allah tengah menghinakan dirinya di hadapan-Nya. Hutang tersebut terlihat seperti kalung yang senantiasa melingkar di lehernya tanpa ada peluang untuk segera terlepas. Begitulah cara Allah Subhanahu wa Ta’ala menghinakan seseorang dengan belenggu hutang yang tak kunjung selesai. Oleh karena itu, alangkah baiknya bagi umat Islam untuk dapat menghindari peluang berhutang.

Jika memang terpaksa, pastikan bahwa tujuannya benar-benar untuk memenuhi hal-hal yang pokok atau dalam keadaan terdesak. Namun, apabila kita sudah terlanjur berhutang dengan apa pun tujuan awalnya dan benar-benar ingin agar Allah membantu menyelesaikan masalah kita, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam pernah mengajarkan sahabat dan umatnya doa agar segera mendapat kemudahan dari Allah dalam menyelesaikan masalah ataupun menghindari hutang. Sebagaimana dalam suatu hadits, beliau pernah bersabda yang berbunyi ‘Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom’, yang artinya sebagai berikut ini,

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan sulitnya utang.” (HR. Bukhari no. 2397 dan Muslim no.5)

Itulah cara yang dianjurkan bagi umat Islam dalam memahami hutang. Hutang bukanlah sebuah peluang untuk bersenang-senang. Sebaliknya, hal tersebut sejatinya adalah bagian dari ujian yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atas kesabaran kita terhadap nikmat dan rezeki berupa materi. Oleh karenanya, hindari diri kita dari jebakan untuk berhutang. Terapkan gaya hidup sederhana yang sesuai dengan pendapatan agar peluang berhutang dapat diminimalisir. Jangan lupa, amalkan juga doa kebaikan di atas dengan harapan agar Allah senantiasa melindungi diri kita dari perbuatan dosa dan sulitnya masalah hutang.