Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal setidaknya ada dua jenis sifat manusia, yakni introvert dan ekstrovert. Mengenai perbedaan di antara keduanya tentu saja sudah jadi rahasia umum. Kita mengenal introvert sebagai sifat yang kurang tertarik dengan interaksi sosial sementara ekstrovert adalah kebalikannya. Perbedaan ini pada akhirnya menghasilkan dampak tersendiri bagi masing-masing sifat. Walaupun demikian, tentu saja tidak ada yang sempurna di antara keduanya. Baik manusia introvert atau pun ekstrovert sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Lantas, hal apa kira-kira yang bisa menjadi pelajaran kehidupan yang sesuai untuk keduanya? Tentu saja hal ini tidak jauh dari perkara interaksi sosial. Baik yang terbuka atau pun cenderung tertutup, keduanya pasti akan berhadapan dengan hal tersebut. Meski memiliki cara berbeda dalam menghadapinya, baik introvert atau pun ekstrovert hendaknya dapat senantiasa menanamkan kesabaran saat tengah berinteraksi sosial dengan orang-orang yang gemar membuat keonaran. Bukan tanpa alasan, pasalnya ada keutamaan tersendiri di balik upaya kita untuk senantiasa bersabar terhadap gangguan dari orang lain.
Sebagaimana diketahui dalam suatu hadits bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam pernah bersabda,
“Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih besar pahalanya dibandingkan dengan seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR.Ibnu Majah)
Kepada para sahabat dan umatnya, Rasulullah menyampaikan tentang kebaikan yang akan didapatkan oleh manusia yang senantiasa bertahan dalam interaksi sosial meski sejatinya hal tersebut kerap mendatangkan gangguan. Bukan tanpa sebab, pasalnya hubungan antar sesama manusia adalah hal yang rentan dengan kesalahpahaman. Hal ini biasanya terjadi lantaran setiap orang memiliki sifat dan kebiasaan yang berbeda. Seperti yang telah kita bahas di awal bahwa secara umum ada dua jenis orang yakni introvert dan ekstrovert. Pendekatan terhadap keduanya pun berbeda. Tidak jarang, hal ini bahkan dapat menyebabkan satu di antara lainnya merasa saling terganggu.
Gangguan ini juga sebenarnya bukanlah sebuah masalah besar. Hanya terdapat ketidakcocokan di antara introvert dan ekstrovert yang menyebabkan mereka merasa tidak nyaman satu sama lainnya.
Perbedaan ini pun sejatinya bukan hal yang harus diperdebatkan. Kita hanya perlu saling memaklumi meski sejatinya belum dapat memahami satu sama lain. Bahkan, Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam pun menyampaikan bahwa terdapat pahala besar bagi orang yang berusaha bersabar terhadap interaksi sosial yang membuatnya tidak nyaman. Hal ini lantaran mereka tengah dalam upaya untuk memelihara hubungan silaturahmi dengan sesama. Bersabar dalam hubungan yang kurang menyenangkan pun dianggap lebih baik dari pada menyendiri tanpa interaksi.