Rasa bahagia terkini sering dimaknai sebagai keputusan yang kita buat sendiri. Bukan tanpa sebab, pasalnya kesadaran akan arti kebahagiaan yang sebenarnya semakin meningkat di kalangan banyak orang. Bahkan, beberapa golongan orang memahami hal ini dengan lebih sederhana sekedar memiliki kehidupan stabil tanpa banyak masalah. Ya, memang pada dasarnya kitalah yang menentukan bagaimana cara kita untuk merasa bahagia karena kita sendiri yang mengerti kondisi diri kita. Namun, ada beberapa orang yang cukup kesulitan dalam melakukan hal ini.
Sayangnya, kebanyakan di antara mereka tidak memahami dengan benar penyebab dari sulitnya merasa bahagia. Dalam ajaran agama Islam, sejatinya tidak ada alasan bagi kaum Muslimin dan Muslimat untuk merasa demikian. Bukan tanpa alasan, pasalnya umat Islam memiliki Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya tempat bergantung. Oleh karenanya, mereka yang masih kesulitan untuk mencapai kebahagiaan diyakini lantaran memelihara penyakit hati yakni dengki. Hal ini sebagaimana Al-Fudhail bin lyadh rahimahullah berkata,
“Orang yang dengki tidak akan pernah bahagia, karena ia tidak ridha dengan ketetapan Allah. Dia lupa bahwa semua rezeki itu berasal dari Allah.” (Hilyat al-Auliya, Jilid 8, hlm. 95)
Dengki dikenal juga dengan sebutan hasad. Secara umum, kita memahaminya sebagai perasaan tidak senang atau iri terhadap kebahagiaan, keberuntungan, dan juga rezeki yang dimiliki orang lain. Bahkan, mereka yang memelihara rasa dengki hingga ke urat nadi biasanya sangat ingin agar kebahagiaan yang dirasakan orang lain hilang. Ajaran Islam melarang umatnya untuk memelihara sifat ini karena dapat mendatangkan dampak buruk terhadap kehidupan kita dan orang sekitar lingkungan kita. Orang-orang yang tidak lepas dari sifat ini biasanya sangat sulit merasa bahagia.
Mereka selalu diliputi rasa tidak senang terhadap kehidupan yang dimiliki orang lain. Hal ini sejatinya merupakan wujud dari dirinya yang tidak ridha terhadap ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal tersebut pun dapat terjadi lantaran mereka lupa bahwa rezeki adalah pemberian Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menentukan dan menghendaki jumlah dari rezeki yang diturunkan pada hamba-Nya. Pada hal, Allah juga telah memberi isyarat agar rezeki bisa bertambah yakni dengan senantiasa mensyukuri apa yang diberikan oleh-Nya. Sementara, orang-orang yang memelihara kedengkian sangat sulit untuk bersyukur
Hal ini terjadi lantaran mereka sibuk memperhitungkan rezeki yang dimiliki oleh orang lain. Lantas mereka pun mulai membandingkan kehidupan mereka dengan orang sekitarnya. Ketika apa yang dimilikinya ternyata jauh dari yang dimiliki orang lain, maka mereka pun mulai merasa kesal. Inilah sejatinya yang membuat kebahagiaan sulit datang pada orang-orang yang menyimpan kedengkian terhadap kehidupan orang sekitarnya. Sudah sepatutnya umat Islam untuk dapat menghindari penyakit hati ini agar tidak terjebak dalam perasaan kesal tak beralasan.