Cara Hadapi Perselisihan Ungkap Tingkat dan Derajat Akhlak Seseorang

Memiliki hubungan dengan orang lain berarti kita membuka peluang terhadap berbagai kemungkinan pengalaman yang kita dapatkan bersama orang tersebut. Ada kalanya cerita hidup kita dipenuhi dengan kesukaan dan kebaikan bersama, namun ada pula datang kesempatan berbeda pendapat dan saling menyalahkan. Meski pun demikian, dua orang yang memiliki hubungan baik biasanya dapat memaklumi kekurangan rekannya. Bahkan jika berselisih paham pun masih memiliki perasaan untuk menjaga kenyamanan satu sama lainnya. Berbeda jika ada salah satu di antara dua orang tersebut yang memiliki akhlak tercela, sudah pasti tingkah lakunya saat berselisih melebihi batas yang sewajarnya. Hal ini sebagaimana As-Syaikh Prof. Dr. Saad As Al-Khatrslan pernah berkata,

Tingkatan dan derajat akhlak seseorang akan terlihat ketika Anda berselisih dengannya. Orang mulia akan tetap menghormati orang yang berselisih dengannya. Adapun orang yang tercela, ia akan melakukan hal yang buruk (melampaui batas) ketika berselisih!” Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam telah menyebutkan bahwa tanda kemunafikan adalah jika seseorang berselisih, ia berbuat keburukan dengan melampaui batas.” (@SahabatMuslimTV)

Dalam keadaan baik-baik saja mungkin kita bisa melihat sikap dan sifat seseorang yang terlihat manis. Hal ini lantaran tidak ada hal yang mengganggu hati dan pikirannya. Kadang kala kita beranggapan bahwa ia termasuk dalam golongan orang-orang saleh. Sayangnya, anggapan tersebut tiba-tiba bisa hilang ketika perselisihan merenggangkan hubungan. Terlebih lagi jika terdapat sikap dan perbuatan orang tersebut yang bahkan melebihi batas kebencian, dapat dipastikan bahwa ia termasuk dalam kategori orang dengan akhlak tercela. Bukan tanpa alasan, pasalnya tingkatan dan derajat seseorang seperti yang dikatakan oleh As-Syaikh Prof. Dr. Saad As Al-Khatrslan di atas terlihat dari sikap yang ditimbulkan saat sedang berselisih dengan orang lain.

Mereka yang memelihara akhlak mulia biasanya akan tetap menghormati orang lain meski sejatinya sedang dalam keadaan berselisih. Sebaliknya, orang-orang dengan akhlak tercela akan memperlihatkan sikap buruk yang melampaui batas perselisihan. Terkait hal ini, Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam mengatakan bahwa sikap tersebut sejatinya adalah tanda dari adanya kemunafikan dalam hati seseorang. Orang-orang munafik akan membenci orang lain dengan sangat berlebihan. Bahkan, terdapat pula perbuatan-perbuatan yang dilakukannya semata-mata hanya untuk menyakiti atau merugikan orang yang berselisih dengannya. Pada hal, Islam mengajarkan umatnya untuk dapat menyelesaikan perselisihan dengan bijak.

Penyelesaian dimulai dari pencarian sebab terjadinya perselisihan tersebut. Namun, orang-orang munafik sudah pasti akan berusaha menyangkalnya dengan menutup-nutupi kebenaran yang terjadi. Sungguh, sejatinya hal ini adalah perbuatan yang sangat buruk dan mampu menimbulkan kerugian bagi orang lain. Maka dari itu, sebaik-sebaiknya langkah yang bisa dilakukan umat Islam adalah dengan tetap bertawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar hati dan pikiran selalu terjaga dari hal-hal yang mampu menyakiti sesama. Tawakal juga dapat mengubur sikap dan sifat buruk termasuk juga kemunafikan yang sangat mudah menjangkiti hati dan pikiran manusia. Semoga dengan senantiasa bertawakal kita dapat menjalani hidup sekaligus menghadapi masalah dengan lebih bijaksana.